Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

Cita-cita Bagian 2

“Raita?” gumam Erwin. “Yaah, aku tidak lolos.”
“Hah, lo nggak lolos, Win? Gimana bisa?” Tommy, teman sebangkunya heran.
“Ah, tak apa-apa. Mungkin mereka belajar lebih giat,” sahut Erwin.
Mereka yang lolos seleksi kemudian diberi bimbingan ekstra tiap hari sepulang sekolah. Erwin biasa melihat 2 orang kakak kelasnya dapat lolos, tapi ia terkejut dengan Raita. Biasanya, ia terlihat kurang menonjol tapi tiba-tiba saja muncul di permukaan.
Raita awalnya senang dapat lolos. Ia dapat membahagiakan ayah-ibunya. Namun, ia baru sadar kalau itu bukanlah tujuan akhir, justru awalan untuk memenangkan olimpiade sesungguhnya. Sayangnya, ia tak bisa mengikuti pelajaran saat bimbingan. Lama-kelamaan ia tertekan karena merasa tak mampu mengikuti. Beberapa kali, ia justru tanya tentang Biologi ke Erwin. Hal ini membuat Erwin heran dan curiga.
“Itu namanya eritroblastosis fetalis,” Erwin menjawab pertanyaan Raita. “Ta, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Hmm… nanya apa?” sahut Raita.
“Seleksi olimpiade kemarin itu kamu kerjakan dengan jujur, kan?” tanya Erwin.
“Memangnya kenapa?”
“Maaf, tapi rasanya kamu seharusnya lebih tahu daripada aku… soalnya kamu yang lolos, bukan aku,” sahut Erwin lagi.
“Mm… Win, ada yang harus gue akuin,” ungkap Raita. “Seleksi itu gue kerjain sambil nyontek lewat buku. Gue sengaja SMS lo malem sebelum seleksi supaya lo keganggu. Gue juga yang nyuruh orang bilang ke lo kalo seleksi itu diundur. Maafin gue, ya. Gue lagi labil waktu itu.”
“Oh, begitu. Tidak apa-apa, sudah terlanjur. Sekarang, kamu yang terpilih dan kamu yang harus melanjutkan perjuangan ini,” sahut Erwin.
“Nggak. Di hati kecil gue, gue nggak mau. Gue ikut olimpiade karena paksaan dari ayah gue. Ayah gue nggak suka kalo gue jadi penulis.”
“Terus sekarang bagaimana?” tanya Erwin.
“Gue pingin posisi gue lo gantiin,” jawab Raita. “Soal ayah gue, gue minta tolong The Rangers buat bikin rencana. Kalian kan problem solver. Bisa kan?”
“Selalu bisa,” sahut Erwin mantap.
Keesokan harinya, Raita mengaku di hadapan Bu Astuti tentang perbuatan buruknya. Ia juga mengaku kalau itu ia lakukan karena tekanan dari ayahnya. Ia ingin posisinya digantikan oleh Erwin. Bu Astuti pun setuju. Ia justru mengacungkan jempol karena Raita berani mengakui kesalahan. Sejak itu, Erwin menggantikan Raita ikut olimpiade.
Kemudian, The Rangers pulang bersama Raita. Namun, mereka mampir sebentar ke PT Suara Bangsa. Mereka menawarkan cerita serial Raita untuk diterbitkan di koran mereka.
“Wah, ceritanya bagus. Bisa menjadi motivasi bagi anak-anak yang membaca. Bahasanya pun komunikatif,” komentar pemilik PT Suara Bangsa. “Baiklah. Cerita ini akan saya terbitkan setiap hari Minggu mulai minggu esok. Dan Raita, kamu diterima jadi penulis di PT Suara Bangsa. Besok, silakan ke sini lagi untuk mengurus pekerjaan ini.”
“Waah, makasih, Pak!” sahut Raita senang.
Beberapa hari kemudian di Minggu pagi, Raita tersenyum menyamping penuh arti. Ia memiliki sebuah rencana. Ia pergi ke teras rumahnya membawa secangkir kopi dan sesuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Ia mendapati ayahnya tengah membaca koran di sana.
“Yah, ini kopinya,” kata Raita.
“Oh, iya. Makasih, Raita,” sahut ayahnya masih membaca.
“Yah, aku punya hadiah buat ayah.” Raita memberikan sesuatu di balik punggungnya. Baju bermotif kotak-kotak. “Bagus apa nggak, Yah?”
“Hmm… Bagus. Ayah suka warnanya.” Ayah Raita melihat baju itu. “Tapi kok tumben? Ada apa?”
“Ada yang mau aku akuin,” ujar Raita. “Aku mengundurkan diri dari olimpiade, Yah.”
“Apa?!” ayahnya terkejut. “Kenapa?”
“Soalnya Ayah selalu nekan aku buat nurutin apa kata Ayah, tapi nggak pernah ndengerin apa kata aku,” Raita melepaskan emosinya. “Ayah tahu? Aku kemarin lolos itu cuma karena nyontek buku. Jiwaku bukan di sana, Yah. Jiwaku ada di dunia tulis-menulis.”
“Jadi sekarang kamu berani nyalahin Ayah?” tanya ayahnya dengan raut marah.
“Kita itu manusia, Yah, pasti punya salah. Tapi aku bisa ngebuktiin kalau cita-citaku bukan angan-angan kosong. Aku sudah kerja, Yah, di PT Suara Bangsa. Baju itu hasil kerja kerasku jadi penulis,” sahut Raita. “Kalau Ayah nggak percaya, Ayah bisa lihat di sini.” Raita mengambil koran ayahnya dan menunjukkan ceritanya.
Ayah Raita hanya diam dengan alis masih mengkerut. Raita pun menaruh koran itu di meja, lalu pergi. Setelah itu, diam-diam ayahnya membaca cerita Raita.
Lama-kelamaan hati ayah Raita kian mencair. Ia kini sudah tak memaksa Raita untuk ikut olimpiade atau menjadi dokter seperti dia. Ayahnya hanya ingin Raita bahagia dan meraih cita-citanya sendiri. Sedangkan Erwin yang menggantikan Raita ternyata meraih peringkat 3 sekotanya. Semua kini senang.
TAMAT

Kamis, 02 Januari 2014

Cita-cita Bagian 1

R
AITA sedang menonton televisi malam itu. Ia duduk di sofa dan dengan penuh konsentrasi melihat film kartun serial. Baginya, itu penting sebagai sumber inspirasi tulisan-tulisannya. Namun, sedang asyik-asyiknya menonton, televisi itu tiba-tiba mati. Raita menoleh dan melihat ayahnya membawa remote.
“Kok dimatiin? Besok nggak ada pe-er, Yah,” kata Raita.
“Besok sekolahmu ngadain seleksi olimpiade, kan?” sahut sosok berkumis tipis. “Ayo, belajar. Kamu harus lolos seleksi, Raita. Biar kamu bisa jadi dokter, nerusin kerjaan Ayah.”
“Tapi, Yah, aku ingin jadi…” Raita tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Jadi penulis? Ayah udah bosan ndengernya,” sahut ayahnya lagi. “Kamu itu dibilangin selalu membantah. Kalau kamu anak Ayah, harusnya kamu nurutin apa kata Ayah.”
Raita hanya menunduk dan mendengarkan perkataan ayahnya.
“Raita, kamu itu anak Ayah satu-satunya. Ayah pingin kamu berprestasi di sekolah. Semua orang bisa menulis, tapi nggak semua bisa ikut olimpiade,” ceramah Ayah Raita. “Kamu anak yang pinter, Raita. Manfaatin kepintaranmu dengan baik.”
“Yah, cita-cita itu nggak bisa dipaksa,” Raita membantah dengan halus.
“Cita-cita itu hanya angan-angan kosong! Pokoknya, kamu harus lolos seleksi itu,” Ayah Raita sedikit membentak, lalu pergi.
Raita pun masuk ke kamar. Ia melamun. Ayah Raita dekat dengan beberapa guru di sekolah sehingga ia selalu tahu kegiatan sekolah Raita. Raita hanya tak paham. Ia harus belajar dalam keterpaksaan dan cita-citanya terhalang oleh sang ayah. Andaikan ia bisa memberitahu ayahnya…
Raita labil. Di samping siklus bulanan yang melabilkan emosinya, ia juga harus dihadapkan dengan hal ini. Ia tak berani membangkang ayahnya. Baginya, itu hanya menambah masalah. Jika ayahnya sudah bilang “pokoknya”, berarti Raita harus menuruti. Namun, Raita pesimis bisa lolos. Ia sudah mencoba belajar tapi hanya sebagian yang masuk ke otak.
Di tengah kelabilannya itu, Raita menemukan sebuah celah. “Khukhukhu…” tawanya.
Di lain tempat, terlihat Erwin sedang belajar Biologi. Hal itu ia lakukan untuk seleksi olimpiade besok. Erwin memang bercita-cita memenangkan olimpiade. Meski dia ingin jadi detektif, ia pikir ilmu Biologi tetap ada gunanya kelak.
Belum sampai belajar 1 bab, ponsel Erwin bergetar. Ada SMS dari Raita. “Raita? Tidak seperti biasanya,” gumam Erwin.
Raita  : Win, lagi apa?
Erwin  : Belajar.
Raita : Oh, sori ganggu. Mau minta komentar aja soal cerita gue. Mau denger?
Erwin  : Maaf, aku hendak belajar.
Raita : Nggak pa-pa. Sebentar aja, ya. Ceritanya bagus, lho. Cerita serial. Judulnya “Cita-cita”.
Erwin : Maaf, ya. Ceritamu bisa kudengar lain kali, tapi seleksi olimpiade hanya ada besok.
Erwin kemudian melanjutkan belajarnya. Sedangkan, Raita di kamarnya tengah kesal. Ia gagal mengganggu saingan beratnya.
“Huh, gagal,” gumamnya. “Gue masuk ke rencana B.”
***
Keesokan harinya sepulang sekolah, Erwin pergi ke salah satu kelas untuk mengikuti seleksi olimpiade. Namun, di tengah jalan, seorang siswa yang tak ia kenal menghadang.
“Eh, lo Erwin, ya?” tanyanya. “Tadi gue dibilangin, katanya seleksi olimpiade Biologi diundur besok.”
“Diundur? Sungguh?” Erwin bertanya balik.
“Iya, gue disuruh ngomongin ke lo.”
Diomongi seperti itu, Erwin berbalik arah. Ia berpikir, anak tadi tak mungkin berbohong. Kemudian karena lapar ia membeli jajanan di koperasi siswa.
Di koperasi itu ia bertemu dengan Bu Astuti, guru Biologinya. Saat tengah membeli jajan, guru itu berkata pada Erwin. “Cepetan beli jajannya. Seleksi mau mulai.”
“Lho, katanya diundur, Bu?” sahut Erwin.
“Kata siapa?” Ayo, cepetan ke kelas,” perintah Bu Astuti.
Erwin pun menurut dan pergi ke kelas. “Jadi, tadi aku dibohongi? Untung saja aku bertemu Bu Astuti,” gumamnya.
Di kelas itu, Erwin melihat anak-anak sudah siap mengikuti seleksi. Erwin pun mengambil tempat duduk yang kosong, lalu menyiapkan alat tulis.
Dari bangku seberang, Raita memandang Erwin. Huh, rencana B gagal, batin Raita. Tapi, aku tetap punya rencana yang lain. Khukhukhu…
Anak-anak mengerjakan dengan serius. Raita pun begitu. Tapi bedanya, Raita serius mencari jawaban di buku rangkuman. Ia sudah mempersiapkan itu di laci mejanya. Pengawasan Bu Astuti memang tak terlalu ketat sehingga Raita dapat melakukannya dengan lancar.
Hari demi hari berlalu dan tibalah pengumuman hasil seleksi olimpiade. Pengumuman itu diberitahukan melalui speaker sekolah. “… Olimpiade Biologi yang mengikuti adalah: Shara Aditya, Rian Wibowo, dan… Raita Febiola.”
“Raita?” gumam Erwin. “Yaah, aku tidak lolos.”
Berlanjut ke Bagian 2...

Kamis, 19 Desember 2013

Dunia Maya Bagian 3

“Iya, bener. Ini dompet Tofan,” kata Tommy melihat foto Tofan di dalamnya.
“Ya udah, simpan dulu. Ayo kita buntuti Maya lagi,” sahut Ai.
Tommy dan Ai membuntuti Maya lagi. Sepertinya, Maya hendak turun dari lantai atas. Namun, karena lift yang penuh orang, ia turun dengan elevator. Surdi telah menghubungi Tommy dan memintanya turun lantai.
“Tommy-kun, ngomong-ngomong, kenapa Maya ngambil dompet Tofan? Dari tampilannya, bukannya dia orang kaya?” tanya Ai dalam perjalanan.
“Gue nggak tahu. Mungkin aja dia kleptomania, atau bisa jadi ada tujuan lain,” jawab Tommy.
Setelah The Rangers ditambah Ai kembali berkumpul, mereka terus membuntuti Maya sampai ke tempat parkir di lantai dasar. Tofan masih tidak paham apa yang terjadi. Bagaimana mungkin Maya seperti itu? Begitu batin Tofan.
Di tempat parkir di lantai dasar, Maya sudah ditunggu oleh seorang pria. Pria itu berusia sekitar 20-an, mungkin seorang mahasiswa. Pria itu memakai topi, kaos oblong dengan jaket, dan celana jins hitam. Dia menunggu Maya sambil merokok.
Maya menghampirinya. “Kak, gue beli yang kayak biasa,” katanya.
“Lo bawa berapa duit?” tanya pria itu.
“Malem ini cuma dikit,” jawab Maya sambil memberikan uang miliknya dan Tofan.
Pria itu terbahak. “Korban lo malem ini kurang tajir lagi?”
“Udah, diem. Mana barangnya?” sahut Maya ketus.
Pria itu memberikan plastik kecil berisi serbuk berwarna putih. “Lo pulang naik apa kalo duit lo habis?” tanya pria itu lagi.
“Ah, urusan gampang itu. Kayaknya cowok itu nggak bakal sadar kalo dompetnya gue ambil,” sahut Maya.
Pria itu kembali tertawa. “Ya udah, gue mau balik.”
Dari tempat parkir, Maya kembali ke dalam mall, tapi langkahnya terhalang oleh Tofan dan teman-temannya.
“Kalian mau apa?” tanya Maya. “Minggir, gue mau lewat.”
“May…” panggil Tofan.
“Eh, Fan. Ada apa?” tanya Maya pura-pura tak tahu.
“Kamu ngambil dompetku?” tanya Tofan.
“Dompet apa?” sahut Maya kembali akting.
“You nggak usah pura-pura don’t know. Dari tadi, we mbuntutin you,” sambung Surdi.
“Kalau misal aku yang ambil, apa kalian punya bukti?” tanyanya.
Ai menunjukkan dompet yang tadi ia pungut. “Ini dompet Tofan yang tadi saya temuin di tempat sampah. Tadi saya dan Tommy lihat kamu ngambil uangnya, lalu membuang dompetnya,” jawab Ai.
“Dan barusan, kita lihat lo beli sesuatu dengan uang itu,” lanjut Tommy. Ia lalu merebut tas kecil Maya dengan cepat. Benar-benar bakat tuyul, hehe…
Tommy membuka tas Maya, lalu mengeluarkan plastik kecil yang tadi dibeli Maya. Tommy memberikan plastik itu ke Erwin. “Win, lo tahu apa ini?”
Erwin melihat-lihat serbuk dalam plastik kecil itu, menyentuh serbuk itu dengan jarinya, dan mencium aromanya. “Aku tak tahu ini jenis apa, tapi yang pasti, ini narkoba,” katanya.
“Semua sudah terbongkar, May. Jelaskan,” sambung Tofan.
“Ngapain lo urusin urusan gue? Ini cara gue, dunia gue. Lo semua nggak bakal paham,” sahut Maya.
“Kamu cuma harus njelasin,” kata Tofan lagi.
Maya menyerah, ia lalu mengaku. “Gue kurang kasih sayang dari orangtua. Gue nggak tahu yang gue lakuin sampai akhirnya gue terjebak dalam dunia narkoba ini. Gue nggak tahu caranya lepas dari dunia itu. Kebutuhan narkoba gue selalu bikin kantong gue cekak. Untuk itu, gue selalu ngedeketin cowok dan kadang-kadang ngambil uangnya buat beli narkoba. Gue… gue cuma ngelakuin hal bodoh itu begitu aja, tanpa tahu gimana caranya berhenti.” Maya menangis. “Tolong jangan bilangin hal ini ke siapa-siapa.”
“Maafkan kita. Tapi sepertinya kita harus laporkan ini ke polisi. Ini bukan salahmu. Aku janji kamu akan sembuh dari kecanduan narkoba dan ini semua tak akan mempengaruhi kehidupanmu,” sahut Erwin.
“Ba… bagaimana caranya?” tanya Maya masih menangis.
Pada hari berikutnya, The Rangers dan Ai membawa Maya ke pihak berwajib. Maya dimintai keterangan-keterangan, tapi ia telah menyesal dan meminta saran agar tak lagi kecanduan.
Sedangkan Tofan yang tadinya adalah korban Maya, sekarang justru kembali dekat dengan Maya. Maya telah meminta maaf dan mengembalikan uang Tofan yang ia ambil. Meski awalnya ditipu, Tofan dan teman-temannya membantu Maya kembali ke jalan yang benar. Sekarang baru ketahuan apa hikmahnya.
TAMAT

Minggu, 15 Desember 2013

Dunia Maya Bagian 2

Sesampainya di mall, Tofan dan Maya pun berjalan-jalan. Ai, Tommy, Surdi, dan Erwin yang kurang kerjaan mengawasi mereka dari belakang.
“Kita mau ke mana?” tanya Tofan.
“Jalan-jalan dulu aja, yuk,” ajak Maya.
Mereka berdua berjalan-jalan tak tentu arah. Ketika Maya melihat deretan busana di sebuah toko, ia seketika menarik tangan Tofan mengajaknya masuk ke sana. Tofan yang ditarik tangannya merasa gugup dan salah tingkah. Jarang-jarang ada cewek mau berpegangan dengannya.
Maya dengan asyik melihat-lihat deretan baju dan celana. Ia memilih-milih pakaian yang pas untuknya. Tofan yang melihat itu sampai merasa bosan, lalu duduk di atas sebuah kursi plastik.
“Fan, yang ini cocok buat aku, nggak?” tanya Maya sambil menunjuk sebuah kaos.
“Hah… yang itu? Iya, cocok kok,” sahut Tofan sekenanya.
“Kalau yang ini?” tanya Maya lagi menunjuk sebuah celana panjang.
“Wah… cocok banget,” sahut Tofan lagi. Sebenarnya ia tak begitu paham soal cocok atau tidak cocok dalam berpakaian. Baginya, semua pakaian hampir sama, hanya warna dan harga yang membedakan.
“Beneran? Aku juga suka, sih,” sambung Maya. Ia pun melihat label harganya. “Mm… tapi harganya segini. Uangku cukup apa nggak, ya?”
Maya mengambil dompet di tas kecilnya. Dompet tebal Maya berisi beberapa lembar uang berwarna biru dan merah. Namun, Maya berkata, “Wah, masih nggak cukup. Gimana, nih? Padahal udah cocok banget.”
Maya seakan memberi kode pada Tofan. Tofan di sebelahnya pun bertanya, “Emang harganya berapa?”
Maya menunjukkan label harganya dan mata Tofan langsung membelalak. Yang bener aja…, batinnya. Ia sebenarnya ingin membelikan Maya agar membuatnya senang, tapi ia tak membawa uang banyak.
“Kamu pasti udah punya banyak celana kan? Mending kita beli yang kita butuhin, bukan yang kita pingin,” Tofan ngeles karena tak punya uang.
“Oh, begitu. Emangnya yang kita butuhin apa?” tanya Maya.
“Kalo aku sih, butuh makanan,” jawab Tofan.
“Ya udah, ayo beli makan.”
Tofan dan Maya pun mencari makan di mall itu. Ketika melewati restoran fast-food yang terkenal mahal, Maya bingung. Dia mengira akan makan di sana.
“Lho, nggak makan di sana?” tanya Maya sambil menunjuk restoran itu.
“Nggak ah, nggak suka. Fast-food nggak baik buat kesehatan,” sahut Tofan sok-sokan.
Tofan membawa Maya ke Indoresto, restoran langganan The Rangers. Selain itu, di sini harganya terjangkau dan makanannya 100% Indonesia.
“Ayo, masuk. Kita makan di sini, May,” ajak Tofan.
“Indoresto?” Maya masuk, lalu duduk satu meja dengan Tofan. Ketika pelayan memberikan menu, Maya heran karena isinya hanya makanan Indonesia. “Kenapa nggak ada makanan luar negeri?”
“Namanya juga Indoresto, ya dari Indonesia. Lagipula dari hal kecil ini, kita bisa belajar mencintai produk negeri sendiri,” sahut Tofan.
Maya sedikit cemberut, tapi tetap makan dengan Tofan. Setelah selesai makan, mereka berdua kembali berjalan-jalan.
“Sekarang kita ke mana?” tanya Maya.
“Kita nyari hiburan,” jawab Tofan.
“Hiburan apa? Nonton di bioskop?”
“Aku nggak suka nonton film. Soalnya kita cuma sebagai penonton, bukan pelaku,” jawab Tofan lagi.
“Terus kita ke mana?” tanya Maya lagi.
Tofan menunjuk suatu tempat gemerlapan yang bersuara ramai. Tempat itu adalah sebuah zona permainan. Maya terkejut sambil geleng-geleng kepala. Ia baru tahu ada cowok bukannya mengajak cewek ke bioskop, justru ke zona permainan.
Tofan menukarkan uangnya menjadi koin-koin permainan itu, lalu mulai asyik bermain. Ia mengajak Maya untuk ikut, tapi Maya menolak. Maya berkata akan menunggu di sebuah kios minuman.
Namun, beberapa menit menunggu di kios minuman, Maya berjalan pergi. Ai dan Ranger lain yang mengawasinya jadi heran. Mereka pun membuntuti Maya, sedangkan Tofan masih bermain di sana. Sepanjang perjalanan, Maya membuka sebuah dompet dari sakunya dan menghitung uangnya.
“Yah… cuma sedikit. Dasar, nggak berguna,” gumam Maya sambil terus berjalan.
Mendengar itu, Ai dan Ranger lain jadi curiga. Ditambah lagi, dompet yang Maya bawa mirip dengan dompet Tofan.
“Cepat, coba telepon Tofan. Mungkin itu dompetnya,” suruh Erwin.
Surdi pun menelepon Tofan. Tofan yang sedang asyik bermain, terkejut mendengar ponselnya berbunyi.
“Fan, dompet you masih?” tanya Surdi lewat telepon.
“Maksud lo?”
“Coba periksa dompet you,” sahut Surdi.
Tofan memeriksa dompet di sakunya. “Eh, dompet gue nggak ada.”
“Cepetan you ke sini. I and friends ada di depan book store,” sahut Surdi lagi.
“Bentar, tanggung nih game-nya.”
“You mau dompet you balik apa nggak, sih?” tanya Surdi gemas. Ia lalu mematikan teleponnya.
“Eh, tunggu, Sur. Kalau kita menunggu di sini, kita bisa kehilangan jejak Maya,” kata Erwin.
“Gue punya solusinya,” sahut Tommy. “Lo sama Surdi nunggu di sini, sementara gue sama Ai-chan mbuntutin Maya. Kalo udah ada Tofan, hubungi gue.”
Tommy cari-cari kesempatan, batin Surdi dan Erwin. Namun, mereka tetap menuruti usul Tommy. Tommy dan Ai pun membuntuti langkah Maya.
Di tengah perjalanan, Maya terlihat menelepon seseorang, tapi suaranya tak terdengar karena jaraknya tak cukup dekat dan mall sedang ramai. Kemudian setelah ia mengambil uang dari dompet itu, Maya membuang dompetnya. Ai dan Tommy yang melihat itu langsung menghampiri tempat sampah dan memeriksa dompetnya.
“Iya, bener. Ini dompet Tofan,” kata Tommy melihat foto Tofan di dalamnya.
Berlanjut ke Bagian 3...

Minggu, 08 Desember 2013

Dunia Maya Bagian 1

T
OFAN sedang facebook-an di depan komputer rumahnya. Dari balik kacamata, matanya terfokus pada layar komputer. Ia sedang bermain game strategi yang adiktif. Tring! Tiba-tiba ada seseorang yang mengajaknya chattingan. Tertulis di sana, namanya Maya Ditya.
Maya   : Hai, cowok.

Siapa ini? Batin Tofan. Karena alasan game, Tofan memang selalu mengonfirmasi teman facebook-nya tanpa peduli kenal atau tidak. Maka tak heran jika ia tak mengenal Maya. Ia pun mencoba membalas chat Maya.
Tofan  : Siapa, ya?
Maya   : Kenalin, aku Maya. Nama kamu Tofan, ya?
Tofan  : Iya, kan udah kelihatan lewat nama akunnya.
Maya   : Aku anak SMA Bintang. Kalau kamu?
Tofan  : SMA Kusuma.

Meski tak kenal, Tofan tetap membalas chattingan dari Maya. Jarang-jarang dia diajak chat oleh cewek. Dia ingin mendekati cewek itu. “Tommy aja bisa pacaran, masa gue nggak?” begitu kata Tofan.
Hari demi hari berlalu. Tofan kini chattingan dengan Maya tiap hari. Tofan juga sering melihat-lihat profil Maya dan status-statusnya. Lama-lama Tofan diberi nomor HP Maya dan mereka saling SMS-an.
Maya   : Fan, kamu pingin lihat aku secara langsung, nggak?
Tofan  : Pingin dong. Kapan ada waktu?
Maya   : Malam Minggu ini free. Kamu bisa?
Tofan  : Bisa. Di mana, May?
Maya  : Pinginnya sih jalan-jalan di luar, misalnya di mall. Masalahnya, nggak ada kendaraan.
Tofan  : Mau gue anter?
Maya   : Beneran? Nggak pa-pa?
Tofan  : Nggak pa-pa. Besok malam Minggu jam berapa rencananya?
Maya   : Jam enam dateng ke rumah, ya? Kukasih alamatnya.

Keesokan harinya di sekolah, Tofan bercerita pada teman-temannya mengenai Maya.
“Gan, gue sekarang deket sama cewek, lho,” pamer Tofan.
“Cewek? Siapa?” sahut Tommy semangat. Ai di belakangnya langsung menghentakkan kaki dengan muka kesal.
Tommy menoleh, lalu berusaha merayu Ai. Sejak berpacaran dengan Ai, Tommy memang dijaga ketat kelakuan ganjennya. Jika dekat dengan gadis lain, cewek pencemburu itu langsung minta putus dengan Tommy. Yah, memang tak ada yang bilang kalau pacaran itu mudah.
Tofan memandang Tommy dan Ai dengan tatapan aneh. Tatapan itu seperti tatapan iri hati atau tak mau kalah. Surdi memandangnya heran, lalu bertanya, “Who is she, Fan?”
Tatapan aneh Tofan menghilang, kemudian ia menjawab. “Namanya Maya dan aku kenal dia dari dunia maya. Lucu, ya?”
Namun tak ada yang tertawa dengan gurauan garing Tofan. Memecah suasana, Erwin mencoba bertanya. “Bagaimana kamu mengenalnya? Kamu mengobrolinya atau justru sebaliknya?”
“Dia nge-chat gue pertama kali, kemudian kita berdua terus chattingan. Malam Minggu besok, rencananya gue akan ngeboncengin dia dan nemenin jalan-jalan ke mall,” sahut Tofan bangga.
“You butuh The Rangers, nggak?” tanya Surdi.
“Iya. Lo butuh kita, nggak? Buat persiapan atau misi-misi lain,” sambung Tommy yang sudah berhasil merayu Ai lagi.
“Mm… Boleh juga.”
***
Sabtu sorenya, sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah Tofan. Kemudian pintu mobil itu terbuka dan muncullah Erwin, Surdi, Tommy, dan Ai. Gara-gara tahu kalau Tommy hendak pergi ke mall, Ai memaksa menyarankan untuk naik mobil dengan supir pribadinya. Ia hanya tak ingin Tommy menggoda gadis-gadis lain.
Para Rangers ditambah Ai masuk ke rumah Tofan. Mereka lalu menyiapkan semua yang Tofan butuhkan. Ai membantu menata penampilan luar Tofan, sedangkan Surdi memberi motivasi dan menyemangatinya. Erwin membantu mengatur rencana dan Tommy membantu dengan doa.
Setelah semua siap, Tofan berangkat dengan vespanya dan yang lain membuntuti naik mobil. Tofan memang tak ingin sok-sokan dengan naik sepeda motor mahal atau semacamnya. Ia hanya ingin naik vespa karena itulah yang dimilikinya dan merupakan peninggalan dari ayahnya. Bagi Tofan, vespa itu lebih berharga dari kendaraan mana pun di dunia.
Beberapa menit kemudian, bocah-bocah SMA dari dalam mobil memandangi Tofan yang sedang celingukan. Tofan berada beberapa meter di depan mobil, sedang mencari alamat rumah yang tepat dengan bantuan secarik kertas di tangannya. Tak lama, ia pun menemukan rumah yang tepat.
“Besar banget,” katanya salut
Rumah itu berpagar besi, berhalaman luas, bergarasi, dan bertingkat dua. Rumahnya indah dengan dinding dan keramik putih. Halamannya pun asri dengan berbagai rerumputan dan tanaman. Melihat semua itu, Tofan merasa minder. Ia hanya mengendarai vespa dan mengenakan helm yang tak seberapa harganya. Pakaian dan jaket Manchester United yang ia kenakan pun menjadi terasa biasa.
Tofan menarik nafas dalam dan berusaha memberanikan diri menekan bel rumah. Kurang dari semenit kemudian, Maya datang dengan make-up cantiknya dan busananya yang kurang panjang. Ia membawa pula tas kecil –seperti yang untuk kondangan–  berwarna biru.
Melihat itu, Tofan menelan ludah, lalu bertanya, “Lo nggak kedinginan malem-malem? Pakai jaket, gih.”
“Nggak usah. Lo… eh, maksudnya, kamu naik apa?” sahut Maya.
“Itu.” Tofan menunjuk vespanya.
“Hahaha… Kamu bercanda kan?” tanya Maya lagi. “Pasti pakai mobil sedan yang di sana itu.” Maya menunjuk mobil sedan Ai.
“Enggak kok, beneran naik ini,” jawab Tofan.
Maya tak jadi tertawa. Ia diam sebentar, lalu kembali bicara, “Ya udah deh, nggak pa-pa kok.”
“Ngomong-ngomong… kamu cantik, deh,” gombal Tofan (berdasarkan anjuran Tommy).
“Hehe… Makasih.”
Sesampainya di mall, Tofan dan Maya pun berjalan-jalan. Ai, Tommy, Surdi, dan Erwin yang kurang kerjaan mengawasi mereka dari belakang.
Berlanjut ke Bagian 2...

Minggu, 20 Oktober 2013

Cita-cita Erwin Bagian 3

Namun Erwin kembali membungkuk-bungkuk mencari bom. Hingga akhirnya bom itu ditemukan di balik sebuah meja kosong, ditempelkan menggunakan lakban hitam.
“Teman-teman, tolong ke sini,” panggil Erwin.
Teman-teman Erwin menghampiri Erwin dengan heran. Kue ulangtahun Erwin ditinggal di atas meja.
“Tak usah banyak bertanya. Tolong balik meja ini,” perintah Erwin. “Fan, kamu bawa tas besarmu, bukan? Tolong pinjamkan gunting dan obeng,” pinta Erwin pada Tofan.
Tanpa banyak bertanya, mereka melakukan yang Erwin perintahkan. Dan mereka pun terkejut melihat ada bom di balik meja itu. Waktu yang tertera di bom itu kurang dari 3 menit. Menggunakan gunting dan obeng dari tas serba guna Tofan, Erwin melepaskan lakbannya, membongkar penutupnya, lalu mencoba memotong kabel berwarna merah. Namun tangannya bergetar dan berkeringat, ia tak sanggup melakukannya.
“Teman-teman, aku tak sanggup,” kata Erwin.
“Nggak ada waktu berkata seperti itu. Cepat potong kabel merahnya atau kita semua akan mati,” sahut Tofan memotivasi.
Erwin mencoba memotong kabel merahnya. Teman-temannya ikut dag-dig-dug dan berkeringat cemas. Tommy bahkan menutup telinganya. Dikira mercon kali ya, hehe… Tapi tak terjadi apa-apa dan timer bom itu berhenti. Mereka berhasil.
“Huft…” Erwin mengusap keringat di dahinya.
“Yes, we did it!” kata Surdi seperti Dora the Explorer.
Pengunjung yang lain, juga pegawai yang ada di sana sempat memandangi mereka tadi. Kemudian mereka bertepuk tangan bersama.
Beberapa polisi lalu masuk ke dalam restoran tersebut. Mereka juga berhasil menangkap Boy dan bosnya dengan memborgol mereka.
“Dasar bocah persetan!” umpat mereka.
Salah satu dari polisi tersebut, sepertinya ketuanya, maju dan berkata pada Erwin dan teman-temannya. “Terima kasih, ya. Kami sempat cemas kalau-kalau bom itu terlanjur meledak, tapi kalian menghentikannya. Kami salut pada keberanian kalian,” kata ketua polisi itu.
“Pak, ini sebenarnya aksi Erwin. Dia yang menjinakkan bomnya,” sahut teman-temannya.
“Bukan begitu. Tadi kalau Tommy tidak usil mengambil dompetku, aku juga pasti tak akan tahu,” elak Erwin.
“But, you berani, Win. You did it,” sambung Surdi.
“Hmm… Okelah kalau begitu,” sahut si kepala polisi. “Bolehkah kami meminta nomor ponsel salah satu anak? Kami akan menghubungi jika kami membutuhkan kesaksian atau keterangan.”
***
Ternyata pria yang dipanggil Boy itu adalah seorang bandit yang disewa untuk menanam bom. Namun ia masih penanam bom yang amatir sehingga upahnya pun tak banyak. Sedangkan bos gemuk bersuara cempreng itu adalah pemilik suatu restoran yang merupakan satu-satunya saingan Indoresto. Ia merencanakan peledakan restoran itu agar bisnis Indoresto jatuh dan semua pelanggan beralih ke restorannya. Tapi dengan ditangkapnya bos gemuk itu, yang jatuh justru bisnis restorannya sendiri.
Malamnya, Erwin dan teman-temannya makan gratis di Indoresto. Ini karena usaha bos gemuk saingannya digagalkan oleh Erwin. Teman-temannya juga membawakan sebuah kue ulangtahun lagi dengan lilin berangka 15.
Erwin pun meniup lilin itu sambil make a wish.
Semoga apa yang menjadi pekerjaanku kelak akan berguna bagi banyak orang, batinnya sambil meniup lilin.

Tapi kini Erwin tak iri lagi dengan Raita karena ia sudah punya cita-cita yang jelas. Ia ingin menjadi seorang detektif polisi.
TAMAT

Sabtu, 19 Oktober 2013

Cita-cita Erwin Bagian 2

“Bos, ada anak kecil yang menguping kita dari tadi,” kata pria atletis yang dipanggil Boy.
“Tangkap dia!” perintah pria gemuk itu berang.
Melihat itu, Erwin pun kabur berlari, takut si Boy berhasil menangkapnya.
Meski kurang berolahraga, Erwin ternyata cukup lincah dan cerdik mencari jalan untuk kabur maupun bersembunyi. Mungkin karena ia sering ke mal ini sehingga hafal jalan-jalannya. Ketika melewati tempat penjual pakaian, ia sempat bersembunyi di kamar pas, juga di antara deretan gantungan baju. Namun, ia berhasil ketahuan ketika Mbak penjualnya menghampiri dan bertanya, “Mau beli apa, Mas?”
Si Boy yang mendengar itu langsung mengejar Erwin dan mereka berkejar-kejaran lagi seperti di film Tom and Jerry. Namun di saat-saat seperti ini, Erwin justru kebelet buang air kecil. Ia pun berlari menuju kamar mandi, itu pun masih dikejar si Boy.
Erwin membuang air kecil di tempat kencing khusus laki-laki yang hanya dipisahkan sekat. Ketika melihat Boy menghampiri, Erwin mengacungkan telapak tangannya, sebagai tanda berhenti. “Tunggu sebentar. Saya sedang buang air kecil. Tidak adil kalau Anda menangkap saya. Lebih baik, Anda buang air kecil saja sekalian, supaya adil,” kata Erwin sambil meringis.
“Ya sudah, deh. Aku juga lagi kebelet sebenarnya,” kata si Boy.
Setelah selesai, Erwin cepat-cepat kabur dari kejaran Boy. Tahu dirinya ditipu, Boy juga bergegas mengejar Erwin. Erwin berlari terengah-engah, menghindar dari kejaran Boy. Ia sempat pura-pura bermain ketika melewati zona permainan, juga sempat berpura-pura menjadi pelayan ketika melewati tempat-tempat makan. Namun, Boy masih dapat melacak keberadaan Erwin.
Untunglah, Erwin dengan cekatan menuju ke tempat lift dan memasukinya. Boy mengejarnya, tapi pintu lift sudah tertutup. Boy pun menyusul Erwin dengan naik elevator.
Erwin naik ke lantai 5, tempat Indoresto berada. Lewat perbincangan Boy dengan bosnya, ia sudah tahu kalau di Indoresto ditanam sebuah bom. Setelah keluar dari lift, ia pun segera pergi ke sana untuk menjinakkan bomnya. Erwin memang suka membaca buku, komik, atau film tentang detektif, sehingga ia tahu bagaimana cara menjinakkan bom.
Di tengah jalannya, ia bertemu dengan seorang satpam. Ia pun berkata dengan panik kepada satpam itu.
“Pak…, ada… ada bom di mal ini…, di Indoresto. Saya… akan menjinakkannya. Bapak tolong cegah pelakunya. Dia… dia sedang berjalan menuju ke sini lewat elevator,” kata Erwin dengan nafas terengah-engah.
Di tempat lain, tepatnya di depan Indoresto, Tommy sedang menunggu kedatangan Erwin. “Erwin mana sih? Kok nggak datang-datang?” gumam Tommy. Baru ketika ia melihat Erwin dari jauh, ia menuju ke dalam Indoresto dan berseru ke teman-temannya. “Temen-temen, Erwin udah dateng! Siap, ya!”
Ketika Erwin sampai ke Indoresto, Ranger yang lain, ditambah Kunti dan Raita menyambutnya dengan lagu “Happy Birthday”. Mereka membawa pula sebuah kue tart besar dengan angka 15 di atasnya.
“Happy birthday, Erwin… Happy birthday, Erwin… Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Erwin…” nyanyi mereka semua.
 Namun, bukannya berekspresi senang, Erwin justru berekspresi panik. Ia takut bom itu segera meledak. Ia mencari bom itu di seluruh ruangan hingga pelayan restoran dan teman-temannya keheranan. Ia juga kembali membungkuk-bungkuk untuk mencarinya, memeriksa di bawah meja. Kunti dan Raita yang memakai rok sampai ke-ge-er-an.
“Win, jangan ngintip dong!” seru mereka kompak.
“Ada apa, Gan?” tanya Tofan heran.
“Tak ada waktu menjelaskan,” jawab Erwin.
“You nyariin dompet, Win? Tadi Tommy usil ngambil dompet you. Biar greget katanya,” sahut Surdi. Tapi perkataan Surdi tak mendapat jawaban.
“Dompetnya you ambil segala sih, Tom,” tambah Surdi menyenggol bahu Tommy.
“Hehe… Maaf, deh, Win,” kata Tommy menyerahkan dompet Erwin.

Namun Erwin kembali membungkuk-bungkuk mencari bom. Hingga akhirnya bom itu ditemukan di balik sebuah meja kosong, ditempelkan menggunakan lakban hitam.
Berlanjut ke Bagian 3...

Rabu, 16 Oktober 2013

Cita-cita Erwin Bagian 1

S
ETELAH mengenal Raita, Erwin terkadang merasa iri. Ia iri kepada Raita yang memiliki cita-cita yang jelas dan semangat berapi-api untuk meraihnya. Erwin jadi ingin merancang cita-citanya kelak. Kata Kak Ersa, cita-cita yang paling baik itu yang berdasarkan hobi atau kesukaan. Namun, hobi Erwin adalah membaca, lantas apa cita-citanya? Pembaca?
 Ngomong-ngomong soal membaca, di salah satu mal di kota itu sedang diadakan pameran buku murah. Mengetahui acara tahunan ini diadakan, Erwin siap-siap hunting buku siang ini, bersama The Rangers, tentunya. The Rangers sudah biasa pergi ke mal itu setiap ada pameran dan semacamnya.
Sepulang sekolah, The Rangers pergi ke mal itu. Erwin berboncengan dengan Surdi dan Tommy berboncengan dengan Tofan. Udara panas dan polusi kendaraan menemani mereka dalam perjalanan. Untunglah, udara panas dan polusi terganti ketika mereka masuk ke dalam mal.
Melihat pameran buku dalam mal, Erwin langsung asyik sendiri mencari-cari buku dan seakan lupa daratan. Teman-temannya sudah biasa dengan keadaan ini.
Krucuk, krucuk… Terdengar suara perut Tommy yang kelaparan. “Temen-temen, makan dulu, yuk,” ajak Tommy.
“Iya nih, I juga lagi hungry,” sahut Surdi.
Tofan melihat Erwin masih asyik hunting buku. Ia pun berkata padanya, “Gan, masih sibuk nyari buku? Kita mau makan, nih. Apa kita makan duluan, nanti lo nyusul?”
“Iya, terserah. Begitu juga tidak apa-apa,” jawab Erwin.
Mereka bertiga pergi ke restoran cepat saji di mal itu. Namanya Indoresto. Tempat itu adalah favorit mereka di mal karena menyajikan kuliner Indonesia yang tak kalah dengan kuliner mancanegara.
Erwin memandangi mereka bertiga yang tengah berbisik-bisik mencurigakan. Namun, Erwin tak berpikir aneh-aneh dan kembali hunting buku.
Erwin memilih beberapa komik Jepang dan novel Sherlock Holmes. Selain cerita-cerita lucu atau petualangan, Erwin juga suka cerita detektif semacam Sherlock Holmes. Setelah mendapat yang diinginkan, Erwin pun menuju meja kasir untuk membayar.
“Semuanya enam puluh ribu,” kata kasirnya.
Erwin memeriksa sakunya, namun dompetnya tiba-tiba saja hilang. Ia yakin terakhir kali menaruh dompetnya dalam saku celana. Ia periksa semua saku di pakaiannya, tapi tetap tak ada. Dengan malu, ia pun berkata, “Maaf, Mbak. Uang saya hilang. Saya tidak jadi beli.”
“Oh, ya sudah, nggak pa-pa,” sahut Mbak kasirnya ramah.
Erwin mengira dompetnya jatuh. Ia pun memeriksa lantai di pameran buku tersebut sambil membungkuk-bungkuk, mencari dompetnya. Namun, dari sisi lain rak buku yang sepi, ia mendengar 2 orang pria tengah bercakap-cakap mencurigakan.
“Benda itu sudah kutanam. Misiku selesai,” kata salah seorang pria bersuara berat.
“Apa betul? Di mana?” pria yang satunya bertanya dengan suara sedikit cempreng mirip Suneo.
“Di Indoresto,” jawab pria bersuara berat.
Sepertinya kedua pria itu tak tahu keberadaan Erwin karena ia masih membungkuk. Tubuh Erwin terhalang pandang oleh sebuah rak buku. Penasaran, ia mengintip lewat sela-sela barisan buku yang kosong, menguping.
Erwin melihat pria bersuara berat memiliki tubuh atletis dengan kulit kelam dan rambut panjang. Jika menyanyi lagu “Astuti”, pria itu pasti dikira Agung Hercules. Sedangkan pria bersuara cempreng memiliki tubuh gemuk dan sedikit pendek. Pria itu juga memakai kacamata hitam. Namun, semakin lama, Erwin semakin curiga dengan yang mereka bicarakan.
“Waktu kita tinggal berapa menit, Boy?” tanya pria gemuk.
“Sekitar 15 menit, Bos. Lebih baik kita segera keluar dari sini atau kita akan ikut hancur.”
“Santai, Boy. Sebentar lagi, aku akan menjadi yang terkaya! Buahahaha…!”
“Aku tak peduli. Berikan upahku.”
Pria gemuk itu memberi sebuah koper kepada pria atletis. Kemudian mereka berdua pergi. Erwin yang capai membungkuk pun berceletuk sambil berdiri memegangi pinggangnya. “Aduh, lama-lama capai juga…”
Namun, celetukan itu terdengar oleh kedua pria yang belum jauh pergi.
“Bos, ada anak kecil yang menguping kita dari tadi,” kata pria atletis yang dipanggil Boy.
“Tangkap dia!” perintah pria gemuk itu berang.
Melihat itu, Erwin pun kabur berlari, takut si Boy berhasil menangkapnya.
Berlanjut ke Bagian 2...