Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

Remaja & Pacaran Bagian 4

Beberapa menit kemudian, Emak datang membawa nampan. Di atasnya ada sepiring sarapan, sebotol air minum, obat kapsul, dan kompres demam.
“Daripada ngomong-ngomong nggak jelas, mending kamu makan nih sarapan. Minum yang banyak, udah Emak siapin sebotol. Abis itu minum obat, pake kompres, terus istirahat lagi.”
“Iya, Mak,” sahut Tommy. Tiba-tiba saja, hatinya tergerak untuk bertanya. “Maak, boleh nanya?”
“Nanya apaan?” Emak balas bertanya dengan lagak cuek.
“Emak… Emak pernah pacaran?”
Emak nyengir mendengar Tommy bertanya. “Ya pernah lah, masa ketemu Bapak langsung nikah? Tapi sebelum sama Bapak emang belum pernah pacaran, sih. Soalnya kata almarhum kakek kamu dulu, jangan pacaran dulu waktu sekolah. Mungkin karena faktor nggak laku juga kali, ya, hehe… Tapi kalo dulu waktu SMA ada cowok yang nembak, mungkin bakal Emak terima kali. Soalnya dulu kan temen-temen Emak udah pada pacaran, masa Emak belum? Gengsi dong. Yaa, namanya darah muda.”
“Hehe, ya udah, Mak. Tommy sarapan dulu,” ujar Tommy.
“Hmm… bocah aneh,” gumam Emak sambil keluar membawa nampan kosong.
Tommy makan sambil terus memikirkan kata-kata Emak tadi. Ia tersenyum dan merasa sudah mulai paham.
***
Tok, tok, tok! Terdengar suara pintu rumah Tommy diketuk. Emak Tommy yang baru selesai memasak pun cepat-cepat membukakan pintu. Setelah membuka pintu, tampaklah anak-anak berseragam putih abu-abu di hadapannya. Mereka adalah Erwin, Surdi, Tofan, Kunti, Raita, dan Ai.
“Eh temen-temennya si Tommy, ya? Ayo, masuk dulu,” kata Emak mempersilakan mereka. “Ada acara apa, nih, rame-rame ke sini?”
“Nggak pa-pa, Tante. Cuma mau njenguk Tommy aja,” sahut Tofan.
“Ah, padahal baru nggak masuk sehari, repot-repot ke sini segala,” ujar Emak ramah.
“Hihi… Nggak repot kok, Tante,” sahut Kunti. “Ngomong-ngomong, Tommy ada di rumah, Tante?”
“Iya. Dia lagi di kamarnya. Biar Tante panggilin,” kata Emak sambil kemudian pergi ke belakang. “Toom, keluaar. Di depan ada temen-temenmu, tuh,” panggil Emak dengan keras dari luar kamar.
“Hah, temen-temen?” gumam Tommy.
Tommy yang semula tiduran di ranjang langsung terbangun dan cepat-cepat keluar kamar. Panasnya sudah turun sedikit. Ia pun melepas kompresnya dan dengan lincah langsung menuju ruang tamu.
“Lho, kalian ngapain kemari?” tanya Tommy.
“Njenguk you lah. And mau tell you something aja,” jawab Surdi.
“Ai mendapat juara satu lomba tadi, Tom,” sambung Erwin. “Beri selamat dong, Tom.”
“Wah, juara satu? Selamat ya, Ai-chan.” Tommy menghampiri Ai, lalu menyalaminya. Namun, ekspresi Ai justru cemberut. “Mukanya Ai-chan kok gitu? Harusnya kan seneng.”
“Gimana saya senang kalau pacar saya ternyata sakit?” tutur Ai.
“Hehe… maaf, ya, Ai-chan. Aak Tommy nggak ngasih tahu dulu, soalnya takut kalo Ai-chan kepikiran terus nggak fokus sama lombanya.”
Ai menempelkan tangannya ke dahi Tommy. “Nggak pa-pa, panasnya udah turun kok,” kata Tommy menenangkan.
“Oh iya, Tom. Wawancara yang kemarin gue lanjutin, ya, hehe… Sori buru-buru plus mendadak, soalnya bentar lagi udah mau dikumpulin,” ujar Raita.
“Iya, nggak pa-pa. Gue siap diwawancarai kapan pun,” sahut Tommy sok-sokan. “Eh, Ai-chan nggak cemburu, kan?”
“Enggak, Tommy-kun. Nggak pa-pa kok, aku yang salah. Aku yang harusnya introspeksi,” sahut Ai.
“Ai, nggak ada yang true or false in love,” Surdi tiba-tiba menanggapi.
“Bener, Sur. Gue setuju,” dukung Tommy.
“Oke, Tom. Pertanyaan gue mulai. Dalam berpacaran, menurutmu, lebih banyak mana dampak positif dengan negatifnya?” tanya Raita.
Tommy tersenyum kemudian menjelaskan pemikirannya. “Menurut gue, setiap hal punya dampak positif sama negatifnya. Nggak ada yang positif aja, atau pun negatif aja. Contohnya nyontek. Nyontek emang perbuatan yang buruk, tapi ada dampak positifnya, misalnya ngelatih otot mata, bikin taktik atau strategi, dan lain-lain, hehe… Sama kayak pacaran. Pacaran mungkin ngabisin duit, waktu, tenaga, tapi apa pacaran sepenuhnya jelek? Enggak. Pacaran itu termasuk tahap kehidupan, tahap remaja yang mesti kita lewati biar jadi lebih dewasa.”
“Oke. Tapi Anda tentu nggak bisa memungkiri kalo pacaran punya dampak buruk. Nah, bagaimana cara Anda menghilangkan atau mengurangi dampak buruk tersebut?”
“Lo juga nggak bisa mungkirin kalo hampir setiap remaja pernah ngalamin yang namanya pacaran. Mereka ngelakuin itu soalnya udah ada sifat-sifat alami remaja dalam diri mereka. Kita nggak bisa ngilangin pacaran mereka. Cuma, kita butuh ‘rem’. Rem untuk nggak kebanyakan pacaran dan lihat-lihat situasi kondisi saat pacaran. Juga rem untuk nggak ngelupain kewajiban-kewajiban kita. Sama yang terakhir, rem supaya kita nggak kebablasan pacarannya. Caranya yaitu selalu inget sama Sang Pencipta,” jelas Tommy panjang lebar.
“Jawaban yang sangat memuaskan, Tommy. Pertanyaannya udah selesai. Makasih, ya,” kata Raita sambil mencatat dalam catatan kecil.
“Iya, sama-sama.”
Tiba-tiba Emak muncul membawa nampan berisi gelas-gelas minuman. “Pada ngomongin apa, sih? Kayaknya seru banget. Tommy sampe keliatan udah sehat lagi. Silakan diminum dulu, gih.” Emak mempersilakan minum sambil menaruh gelas-gelas di atas meja.
“Iya, gak usah repot-repot, Tante,” kata Ai sungkan.
“Nggak repot kok. Ngomong-ngomong, kamu cantik. Kayaknya cocok sama anaknya Tante,” goda Emak sambil nyengir.
Ai pun tersipu malu.
TAMAT

Rabu, 12 Maret 2014

Remaja & Pacaran Bagian 3

Malam itu, Tommy pun menemani Ai latihan berpidato. Mereka berdua saling bercanda dan tertawa di sana. Mereka juga sempat duduk-duduk di halaman rumah, memandangi bintang-bintang yang berkedip dan bulan yang tersenyum ke arah mereka. Dunia seakan hanya milik mereka berdua.
“Udah, yuk, main-mainnya. Udah malem. Aku latihan pidato sekali lagi, terus Tommy-kun yang jadi juri. Minumnya juga dihabisin, ya, Tommy-kun,” kata Ai-chan.
Ai dan Tommy pun dari halaman masuk ke ruang tamu rumah. Tommy mendengarkan pidato Ai sambil duduk di kursi dan menyeruput teh buatan pacar.
“I think that’s all. Thanks for your attention. And the last, good morning!” Ai mengakhiri pidatonya yang panjang. “Gimana, Tommy-kun? Lho, Tommy-kun?”
Terlihat di hadapan Ai, Tommy telah tertidur sambil mendengkur. Ai pun mengguncang-guncang bahunya. “Tommy-kun, jangan tidur di sini. Ayo, kuantar pulang,” kata Ai.
“Hah? Gue di mana…? Ai-chan…, kamu cantik banget,” Tommy bicara ngelantur setengah tidur.
Karena usahanya tidak berhasil, Ai pun mencoba dengan cara lain. Ia memercik-mercikkan air ke wajah Tommy. Akhirnya, Tommy sadar juga.
“Lho, Ai-chan? Udah jam berapa ini?” tanya Tommy.
“Hampir setengah sepuluh. Tommy-kun segera pulang gih.”
“Iya, Ai-chan. Aku pulang dulu, ya,” pamit Tommy.
“Eh, Tommy-kun gak capek? Nanti kalau di tengah jalan ketiduran gimana?” tanya Ai.
“Boleh minta botol isi air, nggak? Biar nanti kalau ngantuk di tengah jalan, wajahku bisa kuusap sendiri pakai air.”
Tak lama kemudian, Tommy pulang dari rumah Ai berbekal sebotol air. Dugaannya sendiri memang benar. Dalam perjalanan, ia sempat beberapa kali mengantuk. Tapi syukurlah, ia dapat sampai rumahnya dengan selamat meski masalah lain baru datang.
“TOMMY!” panggil Emaknya galak. “Dari mana aja kamu? Dasar anak bandel!”
***
Sudah pukul enam pagi lebih dan Tommy masih mendengkur di kamarnya. Emak sudah mengetuk pintu kamarnya sepuluh menit yang lalu, tapi tidak digubris oleh Tommy. Karena khawatir, Emak pun menggedor-gedor pintu kamar Tommy lagi.
“Tom, bangun! Nanti telat lho.”
Di kamarnya, Tommy hanya menggeliat. Karena tak mendapat jawaban, Emak pun langsung masuk kamar Tommy.
“Maak…” panggil Tommy lirih, masih terbaring di kasur.
“Apaan sih, Tom?” sahut Emaknya sambil lalu duduk di kasur. “Cepetan mandi terus sarapan, gih.”
“Badan Tommy rasanya nggak enak.”
“Huh, sini Emak periksa.” Emak menempelkan tangannya ke dahi Tommy. Dahi Tommy terasa hangat. “Kamu nggak usah masuk, deh. Istirahat aja di rumah. Salah kamu sendiri semalem ngeluyur nggak jelas, naik sepeda lagi. Masuk angin kali.”
“Istirahat di rumah? Tommy nggak boleh keluar-keluar, nih?” tanya Tommy polos. Tapi melihat tangan Emak mengepal, ekspresi jahil Tommy berubah drastis. “Eh, iya-iya, Mak. Tommy bakal di rumah aja.”
“Ya udah, Emak mau bikin surat izin dulu. Habis itu Emak anter ke rumahnya si Tofan,” kata Emak sambil keluar dari kamar Tommy. “Awas, ya, jangan kabur lagi.”
Di kamarnya, Tommy berpikir. Ia sebenarnya hendak memberitahu Ai tentang ini, tapi takut kalau Ai khawatir dengannya dan tidak fokus pada lombanya pagi ini. Tommy juga menyesal tidak bisa melihat Ai berpidato secara langsung. Alhasil, Tommy beralasan sekenanya pada Ai.
Tommy      :  Ai-chan, maaf, ya. Aak Tommy nggak jadi lihat pidatonya Ai-chan langsung, soalnya Emak udah curiga.
Ai         :  Oh, ya udah, nggak pa-pa. Pasti gara-gara semalem, ya? Kalau semalem ibunya Tommy-kun tahu pasti marah-marah itu.
Tommy      :  Emang tahu dan emang marah-marah, Ai-chan. Makanya, Aak Tommy takut.
Ai         :  Oh, maaf, ya, Tommy-kun. Ya sudah, Tommy-kun ke sekolah dulu, nanti terlambat.
Tommy      :  Iya, Ai-chan. Ai-chan yang semangat, ya, lombanya.
Setelah itu, Tommy menaruh ponselnya di atas meja kamar. Biasanya jika libur, pagi-pagi begini Tommy belum bangun. Sudah bangun pun, ia pasti ketiduran di sofa dengan menghadap TV yang masih menyala. Namun kali ini, Tommy benar-benar malas tidur lagi atau menonton TV. Kali ini ia menarik selimutnya karena tubuhnya merasa panas dingin, lalu melihat langit-langit kamar yang balas menatap.
Tommy sebenarnya bukan tipe orang yang suka bermimpi atau melamun macam Erwin. Tapi sekarang entah kenapa, ia ingin melakukannya. Mungkin karena tak tahu hendak melakukan apa, atau karena sedang demam.
 Tommy tiba-tiba teringat Raita. Katanya, Raita akan melanjutkan wawancaranya kemarin. Tapi berhubung Tommy hari ini tidak masuk, hendak bagaimana lagi?
“Raita…?” Tommy menggumam sambil nyengir-nyengir sendiri. “Karya ilmiahnya unik. Hubungan remaja sama pacaran. Emangnya apa hubungannya?”
Tommy juga kemudian ingat dengan pelajaran Pak Ferry setelah itu. Ia ingat contoh exposition text milik Pak Ferry.
“Pak Ferry…,” gumamnya lagi. “Kata dia, pacaran itu future-destroyer, penghancur masa depan. Ngabisin duit, waktu, dan tenaga. Hehe… mungkin emang bener, tapi kok bisa, ya? Padahal tiap remaja hampir semua pernah pacaran.”
Tiba-tiba terlintas suatu pemikiran di otak Tommy. “Oh, iya, ya. Kalo Raita sama Pak Ferry bilang pacaran itu buruk, kenapa di kenyataannya, hampir semua remaja pernah pacaran? Para remaja mungkin emang tahu kalau pacaran itu nggak baik, tapi mereka tetep ngelakuinnya. Apa mungkin mereka pura-pura nggak tahu? Tapi apa alasannya? Gue kan remaja yang pacaran, harusnya tahu dong.”
Beberapa menit kemudian, Emak datang membawa nampan. Di atasnya ada sepiring sarapan, sebotol air minum, obat kapsul, dan kompres demam.
Berlanjut ke Bagian 4...

Rabu, 05 Maret 2014

Remaja & Pacaran Bagian 2

“Yaah, istirahat udah selesai, Tom. Dilanjutkan besok, ya? Cuma kurang beberapa pertanyaan aja. Maaf, buru-buru, soalnya habis ini gue ada ulangan,” kata Raita sambil meninggalkan kelas Tommy.
Setelah ini ada jam bahasa Inggris. Meski Pak Ferry belum datang, Tommy tak ingin mengulangi kesalahannya. Nanti bisa-bisa ia tidak fokus dan ditanyai lagi. Ia pun pergi ke bangku sebelah Erwin untuk menemaninya.
“Apa kamu tidak di sebelah Ai saja? Sepertinya dia marah,” kata Erwin.
“Marah kenapa?” tanya Tommy.
“Tidak tahu.”
Tommy memandang Ai di bangku seberang. Perkataan Erwin mungkin benar. Muka Ai terlihat ditekuk. Bibirnya sedikit manyun dan pipinya jadi tambah tembem. Mirip Flappy Bird, hehe…
“Ai-chan,” panggil Tommy. “Ai-chan kenapa?”
“Nggak pa-pa,” sahut Ai-chan masih dengan muka Flappy Bird.
Tommy pun menghampiri Ai. Di sebelahnya, Kunti memalingkan muka dengan cuek.
“Ai-chan kenapa?” tanya Tommy lagi.
“Habisnya saya dicuekin,” sahut Ai-chan.
“Kan lagi ditanya-tanya Raita. Masa nggak dijawab?”
“Gak,” jawab Ai-chan kesal.
“Terus yang jawab siapa?”
“Ya udah, Tommy-kun urusin Raita aja.”
“Hiih… pipinya Ai-chan kucubit, lho,” kata Tommy gemas.
“Cubit aja pipinya si Raita,” sahut Ai lagi.
“Huh.” Tommy sudah lelah menanggapi. Meski ia sudah biasa menghadapi sifat Ai yang seperti ini, lama-lama capai juga. Ia kembali ke bangku sebelah Erwin dengan muka masam.
Tak lama, Pak Ferry masuk ke kelas dengan tas selempang hitamnya. Ia pun melanjutkan pelajaran yang kemarin. Setelah itu, ia memberi tugas untuk membuat exposition text.
“Make your own exposition text. Every child has to make one,” perintah Pak Ferry di depan kelas. “I will give you an example. The title is ‘Girlfriend and Boyfriend, the Future-Destroyer’. That title is good and interesting. Then, you should write the reasons. For example, ‘I have 3 reasons to prove that girlfriend and boyfriend are the future-destroyer. First, they waste your money. Second, they waste your time. And third, they waste your energy. So, being single is better to reach our future.’…”
“Kenapa, ya, hari ini topiknya sisi buruk pacaran mulu?” gerutu Tommy. “Habis diwawancara Raita, Pak Ferry juga ngomongin ginian. Apa jangan-jangan emang buruk buat masa depan, ya?” Tommy memandang Ai-chan sambil berpikir.
***
Malam harinya, Tommy SMS-an dengan Ai seperti biasa. Tapi kali ini, Ai masih ngambek sedikit. Tommy pun mencoba menetralkan suasana.
Tommy      :  Ai-chan ngambeknya kenapa? Maafin Aak Tommy dong.
Ai         :  Iya, Tommy-kun, nggak pa-pa. Saya yang harusnya minta maaf soalnya udah bikin Tommy-kun susah. Sebenarnya saya cuma takut.
Tommy      :  Takut kenapa?
Ai         :  Besok kan saya lomba. Saya takut kalau blank. Saya grogi.
Tommy    :  Udah, nggak usah grogi, Ai-chan. Aak Tommy yakin Ai-chan bisa kok. Yang penting percaya sama diri sendiri. Kalau Ai-chan yakin bisa, Ai-chan bisa.
Ai         :  Tapi, masih takut.
Tommy    :  Ya udah, apa yang bikin Ai-chan nggak takut? Aak Tommy turutin. Besok Aak Tommy liat pidatonya Ai deh, buat support.
Ai         :  Tapi, besok kan Tommy-kun sekolah.
Tommy    :  Ah, itu urusan gampang. Udah nggak takut kan? Udah di-support langsung sama Aak Tommy, lho.
Ai         :  Masih takut.
Tommy      :  Terus pinginnya gimana? Aak Tommy bingung.
Ai         :  Pingin latihan bareng Tommy-kun.
Melihat SMS balasan Ai, muncul ide gila di pikiran Tommy. Ia pun mengetik di HP-nya. “Sebentar, ya, Ai-chan.” Kemudian, ia keluar kamar, menguncinya dari luar, dan mengendap-endap menuju garasi rumah. Malam itu masih pukul setengah 8 malam dan orangtuanya tengah bersantai menonton TV.
Sesampainya di garasi, Tommy mendapati sepeda motor ayahnya terparkir. Tapi sewaktu hendak mengeluarkannya dari garasi, Tommy baru ingat sesuatu. Kuncinya tak menempel di sana. Pasti kunci itu ada di meja ruang tengah.
“Kalo gue balik buat ngambil kunci itu, bisa jadi Bapak sama Emak nanyain dan curiga. Gimana, ya?” Tommy berpikir. “Ya udahlah, gue naik sepeda aja.”
Akhirnya, tanpa membawa apa-apa dan hanya memakai sandal, kaos, dan celana pendek, Tommy naik sepeda hendak menuju rumah Ai. Idenya itu memang kadang-kadang berisiko dan kurang kerjaan. Tapi sekali dia bertekad melakukan sesuatu, keinginannya itu sulit untuk digoyahkan.
Sesampainya di rumah Ai, Tommy malah kebingungan. Ia tak berpikir panjang. Jika pintu ruang tamu itu dia ketuk dan orangtuanya yang keluar, bagaimana? Tapi Tommy ternyata beruntung. Belum sampai dia mengetuk pintu, Ai keluar dari ruang tamu untuk menemuinya. Ternyata Ai sedang berlatih pidato di ruang tamu.
“Lho, Tommy-kun?” Ai terkejut.
“Halo, Ai-chan,” sapa Tommy.
“Ngapain ke sini? Malem-malem, lho, gak pakai jaket, pakai celana pendek pula,” omel Ai.
“Habisnya Ai-chan bilang mau ditemenin, ya Aak Tommy ke sini buat nemenin,” ujar Tommy.
“Tapi gak gini juga kali, Tommy-kun,” sahut Ai. “Ya sudah, saya siapkan minum dulu. Tommy-kun pasti haus habis naik sepeda.”
Malam itu, Tommy pun menemani Ai latihan berpidato. Mereka berdua saling bercanda dan tertawa di sana. Mereka juga sempat duduk-duduk di halaman rumah, memandangi bintang-bintang yang berkedip dan bulan yang tersenyum ke arah mereka. Dunia seakan hanya milik mereka berdua.
Berlanjut ke Bagian 3...

Rabu, 26 Februari 2014

Remaja & Pacaran Bagian 1

P
AGI ini ada pelajaran bahasa Inggris. Seperti biasa, Pak Ferry tidak datang tepat waktu. Karena itu, Tommy dengan santainya menghampiri bangku Ai meski masih jam pelajaran. Mereka mojok berdua sambil mengobrol. Jengkel bangkunya dipakai berpacaran, Kunti pun pindah tempat duduk di sebelah Erwin.
Hingga setengah jam kemudian, Pak Ferry masuk ke kelas. Tommy gelagapan melihat Pak Ferry datang. Seisi kelas langsung menuju bangkunya masing-masing. Tommy pun kembali ke bangku sebelah Erwin, tapi…
“Lo ngapain? Sama pacar lo aja sana,” kata Kunti terdengar kesal.
“Serius dong. Ini kan pelajaran, kalo gue sebelahan sama Ai-chan nanti nggak konsen,” sahut Tommy.
“Dari tadi juga jam pelajaran, tapi lo sebelahan sama Ai,” timpal Kunti.
“Huh.” Tommy kembali ke bangku sebelah Ai dengan muka masam.
Pak Ferry tersenyum memperhatikan Tommy. Ia kemudian memulai pelajaran. “Okay, good morning, class! Now, we will discuss about exposition text.”
Selama pelajaran, Tommy memang tidak dapat konsentrasi. Sesekali ia melirik ke arah Ai untuk menatap wajahnya yang cantik. Ia juga modus “pura-pura tidak sengaja” menyentuh tangan Ai. Sampai-sampai Pak Ferry memperhatikan gerak-gerik Tommy.
“Tommy, do you understand?” tanya Pak Ferry di tengah penjelasannya.
Seisi kelas menoleh ke arah Tommy. “Stand, Sir,” jawab Tommy spontan.
Tawa teman-temannya pun membahana. “What did I talk about?” tanya Pak Ferry lagi.
“Exposition text, Sir,” jawab Tommy lagi.
“What is exposition text?”
“Err… a text to expose something, maybe,” jawab Tommy ngawur.
“It’s not fully correct, Tommy. So, listen to me,” sahut Pak Ferry.
Tommy pun mengangguk dan mencoba lebih berkonsentrasi. Namun akhirnya pun tak jauh beda dari sebelumnya.
Tak terasa sejam telah berlalu, diikuti oleh bunyi bel sekolah sebagai tanda selesainya jam bahasa Inggris. Saat itu tiba-tiba saja Pak Ferry memanggil Ai.
“Mm… Ai, please come here,” panggilnya.
Kontan Tommy takut jika Ai dimarahi karena berpacaran terus. Terus terang saja, Ai kan pintar di pelajaran bahasa Inggris. Mungkin Pak Ferry takut kalau nilai Ai turun.
Ai maju ke depan dan Pak Ferry terlihat bicara panjang lebar pada Ai. Ai sesekali menanggapi dengan mengangguk atau bertanya. Setelah Pak Ferry selesai dan keluar kelas, Ai pun kembali ke bangkunya. Tommy dengan penasaran menanyainya.
“Ai-chan tadi dibilangin apa sama Pak Ferry?”
“Itu… saya mau di…”
“Dijadiin menantu? Tidaaak!” sela Tommy alay persis Surdi.
“Bukan, Tommy-kun. Saya mau diikutkan lomba pidato bahasa Inggris,” ujar Ai.
“Oh, lomba. Lombanya dalam rangka apa? Di mana?” tanya Tommy.
“Lombanya di balai kota dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia. Tanggal 5 Juni,” jawab Ai.
“Latihan yang serius, ya, Ai-chan. Biar bisa menang,” dukung Tommy.
“Iya, makasih, Tommy-kun.”
***
Hari ini tanggal 4 Juni. Seperti biasa saat istirahat, Ai dan Tommy mojok di kelas. Mereka membicarakan soal lomba pidato bahasa Inggris Ai besok.
“Tommy-kun, saya grogi banget untuk besok. Saya takut blank waktu di panggung,” tutur Ai.
“Ah, nggak usah pesimis gitu. Kalau Ai-chan percaya bisa, Ai-chan bisa. Lagipula Ai-chan kan cantik. Juri yang ngeliat pasti udah klepek-klepek duluan,” gombal Tommy.
“Ah, Tommy-kun gombal.”
Tiba-tiba Raita masuk ke kelas saat itu. Ia mencari Tommy. Ketika mendapati Tommy tengah berduaan dengan Ai, ia pun menghampiri.
Raita berjalan sambil membawa buku dan pulpen. Tommy sepertinya sudah tahu apa maksud Raita menghampirinya. Ia dengar dari Tofan kalau Raita pernah menanyainya banyak soal pacaran. Katanya, ia melakukan itu untuk dijadikan data dalam karya ilmiahnya. “Pacaran itu bikin kita punya banyak pengalaman jadi remaja,” begitu pendapat Tofan saat ditanyai Raita.
Kemudian Raita menepuk bahu Tommy. “Tom, gue lagi dapet tugas bikin karya ilmiah nih. Dan yang gue bikin menyoroti soal remaja dan pacaran,” jelas Raita. “Nah, lo kan pacaran, terus dari yang gue amati, lo itu beda dan selalu jadi diri lo sendiri. Jadi, lo pasti punya pendapat yang beda soal pacaran. Boleh gue tanya-tanya seputar itu?”
“Mm… boleh aja, sih,” jawab Tommy.
“Ng… saya ganggu kalian, ya? Saya akan pergi dulu,” kata Ai menyingkir dari sana.
“Eh, Ai-chan, di sini aja,” bujuk Tommy, tapi Ai tidak menggubris perkataannya.
Tommy ingin mengejar Ai, tapi dicegah oleh Raita. “Sebentar aja, Tom,” pinta Raita. Tommy pun duduk kembali di kursi. “Pertanyaan pertama: mengapa Anda berpacaran?”
“Gue pacaran soalnya gue sayang sama Ai,” jawab Tommy standar.
“Jawaban yang simple,” komentar Raita. “Pertanyaan kedua: apakah dengan berpacaran, ada dampak yang signifikan bagi Anda?”
“Mm… gue jadi lebih tahu soal cewek. Misalnya, siklus emosinya atau kode-kode bahasanya. Gue juga jadi lebih pe-de soalnya udah punya pacar. Kemudian kita juga jadi lebih aktif, aktif SMS-an, telponan, sehingga waktu kita dapat terisi. Kita juga jadi pintar memijit-mijit HP, hehe….”
Raita manggut-manggut mendengarkan kata-kata Tommy. “Kita itu kan pelajar SMA. Menurut Anda, bagaimana dampaknya terhadap pendidikan atau semangat belajar?”
“Dampaknya kita jadi punya mitra sekolah. Kalau si dia nyuruh belajar, paling tidak kita bisa buka-buka buku sedikit. Kalau si dia ngerjain pe-er, paling tidak kita bisa nyontek-nyontek dikit.”
“Bagaimana dengan waktu yang terbuang untuk SMS-an dan pacaran, daripada belajar?”
“Kan udah gue bilang tadi. Waktu kita jadi bisa terisi. Siswa juga nggak boleh belajar terus, tau. Nanti bisa jebol otaknya.”
“Hmm… Jadi, lebih banyak mana dampak positif dengan….”
Belum selesai Raita berbicara, perkataannya sudah harus disela oleh bel sekolah. Jam istirahat sudah selesai dan Raita ingat kalau setelah ini ada ulangan.
“Yaah, istirahat udah selesai, Tom. Dilanjutkan besok, ya? Cuma kurang beberapa pertanyaan aja. Maaf, buru-buru, soalnya habis ini gue ada ulangan,” kata Raita sambil meninggalkan kelas Tommy.
Berlanjut ke Bagian 2...

Rabu, 12 Februari 2014

Topeng Tengkorak Bagian 3

“Pembully harus mati?” gumamnya bertanya-tanya.
Bagas kontan teringat cerita Indra mengenai siswa yang pernah bunuh diri karena selalu dibully. “Hiii…” Ia pun ketakutan dan berlari keluar kamar.
Di lain tempat, Ardhi sedang bersiap menghampiri Bagas untuk latihan ngeband. Ia sudah memakai helm pembalap kebanggaannya dan menunggangi sepeda motor kerennya. Tapi sewaktu ia sudah mau tancap gas, helmnya direbut dari belakang hingga lepas. Saat Ardhi refleks menoleh, ia melihat sosok kecil berwarna putih yang hanya memakai kolor membawa pergi helmnya.
“Ha? Ada tuyul sore-sore begini?” gumam Ardhi.
Ardhi pun mengejar tuyul itu dengan sepeda motornya, sampai-sampai masuk gang-gang kecil yang sulit dilewati. Namun lama-lama Ardhi kehilangan jejaknya. Awalnya ia tak menyerah untuk mencari helm kebangaannya, tapi karena ia hampir terlambat ngeband, ia memutuskan kembali ke rumah untuk memakai helm yang lain.
Setelah ia hendak mengambil helm ayahnya, tiba-tiba saja ia melihat helmnya ada di dekat pohon mangga depan rumah. Ia pun mengambil helm itu. Tapi sewaktu ia melihat ke atas iseng mencari mangga yang matang, ia malah mendapati hantu bertopeng tengkorak tengah melayang-layang dan tertawa dengan jahat.
“Waa!” Ardhi cepat-cepat memakai helm itu dan tancap gas menghampiri Bagas.
Sesampainya di rumah Bagas, Bagas langsung keluar rumah dan menghampiri motor Ardhi. Tapi ia melihat kejanggalan di helm Ardhi.
“Dhi, helm lo kenapa?” tanya Bagas.
“Ada apa?” Ardhi melepas helmnya.
“Ada tulisan warna merah darah!”
“Pembully harus mati?” mereka mengeja tulisan itu.
Bagas teringat kejadian tadi sore dan menceritakan itu pada Ardhi. “… Kayaknya kita harus segera pergi dari sini deh, atau hantu itu bakal ngelakuin hal yang lebih buruk.”
“Lo percaya gituan?” ejek Ardhi. “Bisa aja tadi orang iseng. Mana ada hantu muncul sore-sore gini?”
“Hihihihi….” Suara tawa yang seram memecah keheningan.
Bagas dan Ardhi menoleh ke atas dan melihat sosok kuntilanak tengah duduk di dahan pohon besar.
“Waaa!” Mereka ketakutan dan segera cabut menuju studio band.
Sesampainya di studio band, mereka melihat Surdi tengah duduk-duduk sendirian.
“Tofan mana?” tanya Bagas.
“I don’t know, telat maybe,” sahut Surdi. “We tunggu aja dulu.”
“Ah, buat apa ditunggu? Kita ngeband dulu, nanti dia juga bakal nyari kita,” ujar Ardhi.
Ardhi pun masuk ke ruang studio, diikuti oleh Bagas dan Surdi. Namun ketika Ardhi mencoba menyalakan lampu di ruang tertutup itu, lampu tidak juga menyala. Malah muncul tulisan terang berwarna merah di dinding. “PEMBULLY HARUS MATI!” begitu bunyinya. Dan dari ujung ruangan, muncul sosok bermata terang. Sosok itu perlahan mendekati mereka bertiga.
“Waaa!” Bagas dan Ardhi lari tunggang langgang, cepat-cepat kembali ke rumah. Namun Surdi kembali pingsan di tempat.
“Sur! Surdi!” Sosok itu mencoba membangunkan Surdi. “Gue bukan…”
Belum selesai sosok itu berbicara, Surdi sudah sadar dan kontan keluar ruangan itu. “Waaa, ghost!” teriaknya sambil berlari.
Surdi berlari hendak pulang dengan motornya, tapi ia kembali terkejut. Di hadapannya ada tuyul, kuntilanak, dan 2 hantu bertopeng tengkorak yang berboncengan naik sepasang motor. Ia hendak pingsan, tapi tuyul itu dengan cekatan menghampiri Surdi.
“Sur, gue Tommy,” katanya.
“Hah?” Surdi melongo tak jadi pingsan.
Sosok bertopeng tengkorak tadi keluar dari ruang studio, lalu melepas topengnya. Ternyata sosok itu Tofan. Dua sosok hantu bertopeng tengkorak yang lain juga ikut melepas topengnya. Mereka adalah Erwin dan Indra.
“So, who is the kuntilanak?” tanya Surdi masih takut-takut.
“Gue Kuntiii…” jawab kuntilanak itu.
“Oh, pantes,” sahut Surdi. “And bagaimana ceritanya you semua jadi ghost-ghost-an?”
“Yang pertama jadi hantu itu gue. Gue pingin Bagas sama Ardhi kapok ngerjain gue sama murid-murid lain,” sahut Indra.
“Oh, berarti penampakan di toilet for girls, parking place, and ruang ganti itu you semua?” tanya Surdi lagi.
“Iya, gue mau nyebar gosip dan cerita hoax dulu supaya mereka percaya dan ketakutan,” ujar Indra. “Waktu di ruang ganti, gue nyeritain itu ke Tofan dan bikin rencana. Kita semua pun ngerjain mereka tadi. Tapi maaf, ya, Sur, gue nggak cerita sama lo waktu itu, soalnya lo pingsan segala, sih.”
“Hehe… it’s alright. Yang penting Bagas and Ardhi pasti nggak bakal ganggu you lagi.”
“Eh iya, Ndra, waktu di toilet cewek lo sempet ngintip, nggak?” tanya Tommy iseng.
“Mm… rahasia dong.”
“Hah?” Teman-teman Indra saling berpandangan.
TAMAT

Sabtu, 08 Februari 2014

Topeng Tengkorak Bagian 2

“Eh, eh, gue mau pakai celana gue dulu…!” kata Tofan panik.
Bagas dan Ardhi lari menuju kelas. Ia berkata pada teman-temannya dengan panik.
“Temen-temen! Gawat, itu… Surdi…, sama Tofan… ditangkep To…” sahut Bagas dan Ardhi terbata-bata.
“To…? Tokek?” terka teman-temannya.
“Bukan…” sahut Bagas.
“Oh, gue tahu. Tomcat?” terka salah satu dari mereka.
“Bukan, Bego!” maki Ardhi. “Surdi sama Tofan ditangkep Topeng Tengkorak!”
“Ah, ini pasti akal-akalan lo kan, biar kita ketipu lagi?” sahut salah satu dari mereka.
“Enggak. Kita serius. Kalo nggak percaya, ayo pergi ke ruang ganti cowok.”
“Gue kan cewek,” ujar salah satu dari mereka sok imut.
Tiba-tiba Indra masuk ke kelas membawa jajanan. Begitu melihat teman-temannya berkerumun, Indra menghampiri.
“Ada apa lagi ini?” tanyanya.
“Gawat, Culun!” Bagas mengguncang pundak Indra. “Surdi sama Tofan ditangkep hantu bertopeng tengkorak di ruang ganti!”
“Hah? Jadi itu bukan ulah kalian?” tanya Indra terkejut.
“Bukan kita. Serius,” Bagas mengacungkan dua jarinya ke atas.
Indra diam sebentar, kelihatan bengong. “Sebenarnya…” Indra berkata serius sambil membenarkan letak kacamatanya. “Sebenarnya gue pernah denger cerita dari ibu kantin.”
“Cerita apa?” tanya Ardhi.
“Katanya…,” Indra mulai bercerita. “Dulu pernah ada anak yang sukanya dibully sama anak-anak sok jagoan di SMA ini. Anak itu tinggal di rumah hanya bersama neneknya. Ibunya telah meninggal dan ayahnya suka bepergian untuk bekerja. Suatu hari, anak-anak sok jagoan itu mengunci anak tersebut di dalam ruang ganti. Dan parahnya, penjaga sekolah pun tak tahu kalau masih ada anak di dalamnya. Penjaga sekolah menguncinya dan anak itu tak bisa keluar. Sampai keesokan paginya, penjaga sekolah menemukannya dan ia keluar menjadi gila. Beberapa hari kemudian…,” Indra menelan ludah. “Ia gantung diri di parkiran sekolah karena tak tahan menjalani hidupnya yang sepi dan penuh siksaan.”
“Wah, mengerikan…”
“Apa hantu bertopeng tengkorak itu arwahnya?”
“Tapi mengapa baru sekarang ia muncul?”
Beberapa pertanyaan dari teman-temannya muncul bertubi-tubi.
“Terus apa lagi yang lo tahu?” tanya Ardhi.
“Katanya, ia akan membalaskan dendamnya. Ia akan menghantui anak-anak yang suka membully anak lain,” sahut Indra.
“Hiii….” Bagas bergidik.
Tak lama, Tofan masuk ke kelas bersama Surdi yang sempoyongan sambil memegangi kepalanya. Teman-teman sekelasnya menghampiri dan bertanya bagai kerumunan wartawan yang menyerbu artis.
“Lo kok lama? Habis diapain sama hantu itu?” tanya mereka.
“The ghost punya magic yang bikin I pingsan,” sahut Surdi.
“Bukannya lo yang ketakutan sampai pingsan?” tanya Ardhi.
“Hehe…” Surdi hanya nyengir.
“Gue lihat sosok topeng tengkorak itu. Tapi nggak tahu, habis itu dia ngilang,” ujar Tofan.
***
Sorenya, Tofan hendak pergi untuk ngeband dengan Surdi. Rencananya, mereka hendak ngeband di studio dekat rumah Kunti pukul 4 sore. Namun anehnya, sekarang masih jam 3 sore dan Tofan pergi bersama Erwin dan Tommy.
Band Tofan bernama Bats. Nama band itu berasal dari singkatan nama-nama personilnya, yaitu Bagas sebagai basis, Ardhi sebagai vokalis, Tofan sebagai drummer, dan Surdi sebagai gitaris. Walau Bagas dan Ardhi itu suka jahil dan iseng, namun mereka memiliki jiwa musik yang tinggi. Tanpa mereka, band Bats mungkin tak sebaik sekarang.
Soal nama band, sebenarnya Surdi pernah mengusulkan nama “Sabt” (baca: sabet), tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh yang lain. Lagipula, nama “Bats” memiliki filosofi tersendiri. Bats yang berarti kelelawar melambangkan keunikan, kebebasan, dan jiwa musik yang tinggi.
Tofan, Erwin, dan Tommy mampir sebentar di rumah Kunti. Di sana sudah ada sebuah skutermatik. Dan ketika mereka mengetuk pintu ruang tamu yang terbuka, sudah ada Kunti dan sesosok makhluk dengan mata yang bercahaya.
***
Pukul setengah 4. Bagas masih tidur terlelap di kamarnya. Dasar pemalas! Namun, tidurnya terganggu oleh bunyi ketukan di jendela kamarnya. Tuk, tuk, tuk! Bagas setengah sadar menegakkan kepalanya dan memandang ke arah jendela. Ia melihat sosok memakai jubah dan pakaian hitam dengan topeng tengkorak. Begitu sadar, ia langsung terkejut sampai-sampai terjatuh dari ranjangnya.
Bagas kemudian terbangun sambil mengelus punggungnya yang sakit setelah jatuh. Ia melihat kembali ke arah jendela, namun sosok topeng tengkorak itu menghilang. Bagas sebenarnya tak berani mendekat, tapi ia melihat tulisan di jendelanya berwarna merah darah. Ia mendekati jendela dan membaca tulisan itu.
“Pembully harus mati?” gumamnya bertanya-tanya.
Berlanjut ke Bagian 3...