Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Topeng Tengkorak Bagian 3

“Pembully harus mati?” gumamnya bertanya-tanya.
Bagas kontan teringat cerita Indra mengenai siswa yang pernah bunuh diri karena selalu dibully. “Hiii…” Ia pun ketakutan dan berlari keluar kamar.
Di lain tempat, Ardhi sedang bersiap menghampiri Bagas untuk latihan ngeband. Ia sudah memakai helm pembalap kebanggaannya dan menunggangi sepeda motor kerennya. Tapi sewaktu ia sudah mau tancap gas, helmnya direbut dari belakang hingga lepas. Saat Ardhi refleks menoleh, ia melihat sosok kecil berwarna putih yang hanya memakai kolor membawa pergi helmnya.
“Ha? Ada tuyul sore-sore begini?” gumam Ardhi.
Ardhi pun mengejar tuyul itu dengan sepeda motornya, sampai-sampai masuk gang-gang kecil yang sulit dilewati. Namun lama-lama Ardhi kehilangan jejaknya. Awalnya ia tak menyerah untuk mencari helm kebangaannya, tapi karena ia hampir terlambat ngeband, ia memutuskan kembali ke rumah untuk memakai helm yang lain.
Setelah ia hendak mengambil helm ayahnya, tiba-tiba saja ia melihat helmnya ada di dekat pohon mangga depan rumah. Ia pun mengambil helm itu. Tapi sewaktu ia melihat ke atas iseng mencari mangga yang matang, ia malah mendapati hantu bertopeng tengkorak tengah melayang-layang dan tertawa dengan jahat.
“Waa!” Ardhi cepat-cepat memakai helm itu dan tancap gas menghampiri Bagas.
Sesampainya di rumah Bagas, Bagas langsung keluar rumah dan menghampiri motor Ardhi. Tapi ia melihat kejanggalan di helm Ardhi.
“Dhi, helm lo kenapa?” tanya Bagas.
“Ada apa?” Ardhi melepas helmnya.
“Ada tulisan warna merah darah!”
“Pembully harus mati?” mereka mengeja tulisan itu.
Bagas teringat kejadian tadi sore dan menceritakan itu pada Ardhi. “… Kayaknya kita harus segera pergi dari sini deh, atau hantu itu bakal ngelakuin hal yang lebih buruk.”
“Lo percaya gituan?” ejek Ardhi. “Bisa aja tadi orang iseng. Mana ada hantu muncul sore-sore gini?”
“Hihihihi….” Suara tawa yang seram memecah keheningan.
Bagas dan Ardhi menoleh ke atas dan melihat sosok kuntilanak tengah duduk di dahan pohon besar.
“Waaa!” Mereka ketakutan dan segera cabut menuju studio band.
Sesampainya di studio band, mereka melihat Surdi tengah duduk-duduk sendirian.
“Tofan mana?” tanya Bagas.
“I don’t know, telat maybe,” sahut Surdi. “We tunggu aja dulu.”
“Ah, buat apa ditunggu? Kita ngeband dulu, nanti dia juga bakal nyari kita,” ujar Ardhi.
Ardhi pun masuk ke ruang studio, diikuti oleh Bagas dan Surdi. Namun ketika Ardhi mencoba menyalakan lampu di ruang tertutup itu, lampu tidak juga menyala. Malah muncul tulisan terang berwarna merah di dinding. “PEMBULLY HARUS MATI!” begitu bunyinya. Dan dari ujung ruangan, muncul sosok bermata terang. Sosok itu perlahan mendekati mereka bertiga.
“Waaa!” Bagas dan Ardhi lari tunggang langgang, cepat-cepat kembali ke rumah. Namun Surdi kembali pingsan di tempat.
“Sur! Surdi!” Sosok itu mencoba membangunkan Surdi. “Gue bukan…”
Belum selesai sosok itu berbicara, Surdi sudah sadar dan kontan keluar ruangan itu. “Waaa, ghost!” teriaknya sambil berlari.
Surdi berlari hendak pulang dengan motornya, tapi ia kembali terkejut. Di hadapannya ada tuyul, kuntilanak, dan 2 hantu bertopeng tengkorak yang berboncengan naik sepasang motor. Ia hendak pingsan, tapi tuyul itu dengan cekatan menghampiri Surdi.
“Sur, gue Tommy,” katanya.
“Hah?” Surdi melongo tak jadi pingsan.
Sosok bertopeng tengkorak tadi keluar dari ruang studio, lalu melepas topengnya. Ternyata sosok itu Tofan. Dua sosok hantu bertopeng tengkorak yang lain juga ikut melepas topengnya. Mereka adalah Erwin dan Indra.
“So, who is the kuntilanak?” tanya Surdi masih takut-takut.
“Gue Kuntiii…” jawab kuntilanak itu.
“Oh, pantes,” sahut Surdi. “And bagaimana ceritanya you semua jadi ghost-ghost-an?”
“Yang pertama jadi hantu itu gue. Gue pingin Bagas sama Ardhi kapok ngerjain gue sama murid-murid lain,” sahut Indra.
“Oh, berarti penampakan di toilet for girls, parking place, and ruang ganti itu you semua?” tanya Surdi lagi.
“Iya, gue mau nyebar gosip dan cerita hoax dulu supaya mereka percaya dan ketakutan,” ujar Indra. “Waktu di ruang ganti, gue nyeritain itu ke Tofan dan bikin rencana. Kita semua pun ngerjain mereka tadi. Tapi maaf, ya, Sur, gue nggak cerita sama lo waktu itu, soalnya lo pingsan segala, sih.”
“Hehe… it’s alright. Yang penting Bagas and Ardhi pasti nggak bakal ganggu you lagi.”
“Eh iya, Ndra, waktu di toilet cewek lo sempet ngintip, nggak?” tanya Tommy iseng.
“Mm… rahasia dong.”
“Hah?” Teman-teman Indra saling berpandangan.
TAMAT

Sabtu, 08 Februari 2014

Topeng Tengkorak Bagian 2

“Eh, eh, gue mau pakai celana gue dulu…!” kata Tofan panik.
Bagas dan Ardhi lari menuju kelas. Ia berkata pada teman-temannya dengan panik.
“Temen-temen! Gawat, itu… Surdi…, sama Tofan… ditangkep To…” sahut Bagas dan Ardhi terbata-bata.
“To…? Tokek?” terka teman-temannya.
“Bukan…” sahut Bagas.
“Oh, gue tahu. Tomcat?” terka salah satu dari mereka.
“Bukan, Bego!” maki Ardhi. “Surdi sama Tofan ditangkep Topeng Tengkorak!”
“Ah, ini pasti akal-akalan lo kan, biar kita ketipu lagi?” sahut salah satu dari mereka.
“Enggak. Kita serius. Kalo nggak percaya, ayo pergi ke ruang ganti cowok.”
“Gue kan cewek,” ujar salah satu dari mereka sok imut.
Tiba-tiba Indra masuk ke kelas membawa jajanan. Begitu melihat teman-temannya berkerumun, Indra menghampiri.
“Ada apa lagi ini?” tanyanya.
“Gawat, Culun!” Bagas mengguncang pundak Indra. “Surdi sama Tofan ditangkep hantu bertopeng tengkorak di ruang ganti!”
“Hah? Jadi itu bukan ulah kalian?” tanya Indra terkejut.
“Bukan kita. Serius,” Bagas mengacungkan dua jarinya ke atas.
Indra diam sebentar, kelihatan bengong. “Sebenarnya…” Indra berkata serius sambil membenarkan letak kacamatanya. “Sebenarnya gue pernah denger cerita dari ibu kantin.”
“Cerita apa?” tanya Ardhi.
“Katanya…,” Indra mulai bercerita. “Dulu pernah ada anak yang sukanya dibully sama anak-anak sok jagoan di SMA ini. Anak itu tinggal di rumah hanya bersama neneknya. Ibunya telah meninggal dan ayahnya suka bepergian untuk bekerja. Suatu hari, anak-anak sok jagoan itu mengunci anak tersebut di dalam ruang ganti. Dan parahnya, penjaga sekolah pun tak tahu kalau masih ada anak di dalamnya. Penjaga sekolah menguncinya dan anak itu tak bisa keluar. Sampai keesokan paginya, penjaga sekolah menemukannya dan ia keluar menjadi gila. Beberapa hari kemudian…,” Indra menelan ludah. “Ia gantung diri di parkiran sekolah karena tak tahan menjalani hidupnya yang sepi dan penuh siksaan.”
“Wah, mengerikan…”
“Apa hantu bertopeng tengkorak itu arwahnya?”
“Tapi mengapa baru sekarang ia muncul?”
Beberapa pertanyaan dari teman-temannya muncul bertubi-tubi.
“Terus apa lagi yang lo tahu?” tanya Ardhi.
“Katanya, ia akan membalaskan dendamnya. Ia akan menghantui anak-anak yang suka membully anak lain,” sahut Indra.
“Hiii….” Bagas bergidik.
Tak lama, Tofan masuk ke kelas bersama Surdi yang sempoyongan sambil memegangi kepalanya. Teman-teman sekelasnya menghampiri dan bertanya bagai kerumunan wartawan yang menyerbu artis.
“Lo kok lama? Habis diapain sama hantu itu?” tanya mereka.
“The ghost punya magic yang bikin I pingsan,” sahut Surdi.
“Bukannya lo yang ketakutan sampai pingsan?” tanya Ardhi.
“Hehe…” Surdi hanya nyengir.
“Gue lihat sosok topeng tengkorak itu. Tapi nggak tahu, habis itu dia ngilang,” ujar Tofan.
***
Sorenya, Tofan hendak pergi untuk ngeband dengan Surdi. Rencananya, mereka hendak ngeband di studio dekat rumah Kunti pukul 4 sore. Namun anehnya, sekarang masih jam 3 sore dan Tofan pergi bersama Erwin dan Tommy.
Band Tofan bernama Bats. Nama band itu berasal dari singkatan nama-nama personilnya, yaitu Bagas sebagai basis, Ardhi sebagai vokalis, Tofan sebagai drummer, dan Surdi sebagai gitaris. Walau Bagas dan Ardhi itu suka jahil dan iseng, namun mereka memiliki jiwa musik yang tinggi. Tanpa mereka, band Bats mungkin tak sebaik sekarang.
Soal nama band, sebenarnya Surdi pernah mengusulkan nama “Sabt” (baca: sabet), tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh yang lain. Lagipula, nama “Bats” memiliki filosofi tersendiri. Bats yang berarti kelelawar melambangkan keunikan, kebebasan, dan jiwa musik yang tinggi.
Tofan, Erwin, dan Tommy mampir sebentar di rumah Kunti. Di sana sudah ada sebuah skutermatik. Dan ketika mereka mengetuk pintu ruang tamu yang terbuka, sudah ada Kunti dan sesosok makhluk dengan mata yang bercahaya.
***
Pukul setengah 4. Bagas masih tidur terlelap di kamarnya. Dasar pemalas! Namun, tidurnya terganggu oleh bunyi ketukan di jendela kamarnya. Tuk, tuk, tuk! Bagas setengah sadar menegakkan kepalanya dan memandang ke arah jendela. Ia melihat sosok memakai jubah dan pakaian hitam dengan topeng tengkorak. Begitu sadar, ia langsung terkejut sampai-sampai terjatuh dari ranjangnya.
Bagas kemudian terbangun sambil mengelus punggungnya yang sakit setelah jatuh. Ia melihat kembali ke arah jendela, namun sosok topeng tengkorak itu menghilang. Bagas sebenarnya tak berani mendekat, tapi ia melihat tulisan di jendelanya berwarna merah darah. Ia mendekati jendela dan membaca tulisan itu.
“Pembully harus mati?” gumamnya bertanya-tanya.
Berlanjut ke Bagian 3...

Senin, 20 Januari 2014

Topeng Tengkorak Bagian 1

S
EORANG cowok culun berambut klimis dan berkacamata tengah mondar-mandir di kelas. Ia sedang mencari tasnya. Sudah pasti, ini ulah Bagas dan Ardhi yang suka menjahili cowok itu. Cowok itu sudah terbiasa dengan mereka. Mereka sering menyembunyikan kacamata cowok itu, menguncinya di kamar mandi, dan pernah menempeli kertas di punggung cowok itu bertuliskan “Orang Gila”. Selain itu, masih banyak lagi tingkah jahil mereka.
 Surdi memandangi cowok itu dengan heran. Ia pun menghampiri dan bertanya.
“What are you doing, Indra?” tanya Surdi.
“Gue lagi nyari tas gue,” jawab cowok culun itu.
“Emangnya tas you ke mana? Emang bisa walking-walking sendiri?” tanya Surdi lagi.
“Haha… Nggak lucu, Sur,” sahut Indra ketus. “Lo kayak nggak tahu aja? Ini udah pasti kerjaan temen lo, Bagas sama Ardhi. Gue takut banget, nih. Soalnya di dalam tas gue ada laptop.”
“Emang nggak funny. I kan tanya, bukan ngelawak,” kata Surdi. “Kalau in this class nggak ada, coba cari in the outside.”
“Hmm… Iya,” sahut Indra lagi.
Beberapa saat kemudian, Tofan berjalan masuk kelas setelah dari kantin. Ketika berpapasan dengan Indra, ia menepuk bahunya.
“Ndra, tas lo ada di atas genteng koperasi,” kata Tofan.
“Oh, iya… Makasih, ya, Fan.”
Indra pergi menuju koperasi dan melihat ransel warna hitam ada di atas genteng. Tanpa peduli siapa pun yang melihat, Indra meminjam kursi dari koperasi dan berusaha menjinjit-jinjit untuk menggapai tasnya. Ketika ia mencoba melompat, ia dapat meraih tasnya, namun ia kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh di tanah.
Indra kembali ke kelas dengan seragam yang kotor terkena tanah. Sekembalinya di kelas, ia melihat teman-temannya berkerumun membicarakan sesuatu. Indra pun menghampiri dan bertanya.
“Ada apa, sih?”
“Cewek-cewek itu bilang kalo habis lihat sosok pakai topeng tengkorak,” sahut Tofan.
“Hah? Di mana?” Indra tampak terkejut.
“Di dekat toilet for girls, katanya,” jawab Surdi.
“Paling-paling juga si Bagas sama Ardhi. Mereka kan suka iseng,” ujar Indra.
“Maybe,” sahut Surdi.
“Lho, Sur, lo kok tumben nggak takut?” tanya Tofan.
“Emang nggak, I kan a brave boy,” sahut Surdi sok-sokan, tapi kakinya tetap gemetaran.
Bel berbunyi, tanda selesainya jam istirahat. Bagas dan Ardhi masuk ke kelas dan sontak menertawakan seragam Indra yang kotor kena tanah.
“Hei, Culun, seragam lo kenapa?” tanya mereka sambil terbahak.
Indra diam saja. Lalu teman-temannya mulai menuduh Bagas dan Ardhi soal sosok bertopeng tengkorak tadi.
“Tengkorak apa, sih? Bukan kita kok. Lagipula kalian nggak punya bukti kan?” elak mereka.
“Tapi lo berdua kan yang suka iseng,” balas teman-temannya.
Sayangnya, Bu Lusi yang tiba-tiba masuk membuat pertikaian itu tidak berlanjut.
***
Saat pulang sekolah, sosok bertopeng tengkorak itu dikabarkan muncul di tempat parkir. Teman-temannya pun kesal, lalu menumpahkan kekesalannya pada Bagas dan Ardhi keesokan paginya.
“Gas, Dhi, nggak lucu tahu nakut-nakutin pake gituan,” kata salah seorang cewek.
“Apaan sih?” Bagas tak paham.
“Kemarin lo kan yang nakut-nakutin di tempat parkir pakai kostum tengkorak?” tanya cewek itu.
“Kita mungkin bisa ngelakuin hal kayak gitu, tapi kali ini, bukan kita yang ngelakuin,” Ardhi membela diri.
“Udah, nggak usah berantem,” lerai Tofan. “Ayo kita ke lapangan. Yang lain udah pada ke sana.”
Mereka pun pergi ke lapangan untuk menerima pelajaran olahraga. Pelajaran olahraga saat itu adalah permainan bebas. Cowok-cowok pun pada bermain basket, ada pula yang bermain voli.
Setelah capai berolahraga, cowok-cowok itu pun berganti baju. Tofan, Surdi, Bagas, dan Ardhi yang mengembalikan bola-bola dulu pun berganti baju belakangan. Namun saat mereka berganti baju di ruang ganti, betapa terkejutnya mereka melihat sosok bertopeng tengkorak tengah berdiri di pojok ruangan.
Surdi seketika pingsan di tempat, sedangkan Bagas dan Ardhi langsung berlari keluar ruangan. Bagas bahkan belum sempat memakai celananya. Dasar, tak punya malu! Tofan pun cepat-cepat memakai celananya dulu. Tapi, si Topeng Tengkorak sudah terlanjur menangkapnya.
“Eh, eh, gue mau pakai celana gue dulu…!” kata Tofan panik.
Berlanjut ke Bagian 2...

Kamis, 26 Desember 2013

Museum Prasejarah Bagian 2

Saat itu, tak ada orang di luar museum sehingga berapa kali pun Surdi berteriak minta tolong, tak ada yang mendengar. Surdi dibawa ke gua persembunyian mereka. Di sana ada beberapa manusia purba yang tengah menunggu.
Mereka saling berkomunikasi dengan bahasa aneh seperti orang gagu. Surdi juga melihat bahwa di sana perempuan jauh lebih banyak daripada lelakinya. Sepertinya, manusia purba itu menculik Surdi untuk menambah jumlah kaum pria.
Surdi dimanjakan seperti seorang raja di sana. Ia diberi bermacam makanan dan buah-buahan. Ia juga diberi seutas kalung oleh pemimpin kelompok, seakan sebagai tanda bahwa Surdi sudah menjadi bagian dari mereka. Kalung itu berupa tali berbentuk lingkaran dengan hiasan-hiasan kecil dari tulang di sekelilingnya.
“Ternyata you semua baik, ya. Tadinya I kira, manusia macam you itu buas and nakutin, but I salah,” puji Surdi.
Setelah pemimpin kelompok mengalungkannya ke leher Surdi, para manusia purba bersorak. Mereka kemudian memasak daging kerbau dengan memanaskannya di atas api begitu saja. Si pemimpin kelompok memberikan bagian daging yang paling besar ke Surdi, tapi Surdi tentu saja tidak doyan makanan seperti itu.
“Sorry, I nggak doyan makanan you,” tolak Surdi sambil menggeleng.
Namun, si pemimpin kelompok bersikeras memberikannya. Ia menaruh daging kerbau yang baru dipanaskan itu di atas tangan Surdi, tapi Surdi tanpa sengaja menjatuhkannya karena panas. “Ouch, it’s hot!” Surdi mengaduh sambil mengelus telapak tangannya.
Tampaknya, perbuatan Surdi membuat marah si pemimpin kelompok. “GAAR!” katanya marah. Ia seakan memerintah anak buahnya untuk menangkap Surdi.
Surdi takut. Ia pun berlari keluar gua sekencangnya, tapi ada yang berhasil meraih tas selempang Surdi. Surdi tetap berlari sehingga tas itu robek. Cring, cring! Uang-uang koin dalam tas Surdi jatuh bergerincing.
“My money!” Surdi menengok merasa sayang dengan uangnya. Tapi Surdi tetap tak bisa mengambilnya lagi karena para manusia purba mengejarnya dengan marah.
Surdi terus berlari sampai tak ada suara dari belakang. Masih berlari, ia menoleh ke belakang. Memang tiada manusia purba yang terlihat, tapi ia menabrak sesuatu di depannya. Sesuatu yang ia tabrak berbulu halus dan berwarna kekuningan. Makhluk itu meneteskan air liur dari atas. Ketika Surdi mendongak ke atas, terlihatlah seekor macan purba raksasa!
“Don’t eat me! Don’t eat me!” teriak Surdi.
“Gan, lo ngomong apa?” tanya Tofan heran.
“Hah?” Surdi membuka matanya. Ternyata semua itu tadi hanya mimpi. Ia tertidur di tempat duduk di luar museum. Di hadapannya ada Paman Fumito dan teman-temannya.
Surdi lalu meraba kepalanya. Basah.
Kok basah? Batinnya penuh tanya. Apa air liur tiger in my dream itu nyata?
“Sori, Sur. Tadi gue siram pake air. Habisnya, lo nggak bangun-bangun sih, hehe…” sahut Tommy.
“Sorry, guys. I ketiduran soalnya last night begadang,” kata Surdi.
“Ya suda, sekarang mari kita pergi ke shitus penemuan foshilnya,” sambung Paman Fumito semangat.
Mereka bertujuh berjalan menuju situs penggalian. Perjalanan ke sana melalui jalan setapak dengan beberapa rumah dan pepohonan di tepinya. Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di situs penggalian. Tempat itu adalah tanah bekas galian yang besar. Di sana hanya terdapat tanah dan sedikit pepohonan. Tak heran jika mereka kepanasan terpapar sinar matahari.
Seorang pemandu menjelaskan tentang tempat itu. Paman Fumito mendengarkan serta mencatat hal yang penting di sebuah buku catatan kecil. Tak jarang, ia bertanya beberapa hal untuk penelitiannya.
Ai, Tofan, dan Kunti mendengarkan dan memperhatikan si pemandu, sedangkan Surdi dan Tommy bermain-main. Erwin dengan penasaran mencoba mencari-cari benda terpendam dalam tanah.
Erwin kemudian menemukan batu berwarna aneh. Sebagian besar berwarna abu-abu seperti batu biasa, namun di beberapa tempat berwarna kuning dan perak. Penasaran, Erwin mencoba mengikis batu itu dengan peralatan Tofan.
“Fan, apa kamu membawa tatah dan palu untuk mengikis batu ini?” tanya Erwin.
“Apa pun yang lo butuhin selalu ada di tas extra large gue,” sahut Tofan. Ia lalu mengeluarkan benda yang diminta Erwin. Teman-temannya memang selalu heran bagaimana dia membawa benda-benda yang begitu lengkap dalam tasnya.
Erwin mengikis batu itu dengan hati-hati. Beberapa lama kemudian, ia mendapatkan uang-uang logam.
“Teman-teman, lihat! Aku mendapat uang-uang logam,” kata Erwin pada teman-temannya.
“Uang logam? Emangnya pada zaman prasejarah udah dikenal uang logam? Mungkin ada orang iseng yang nggali uang itu,” sahut Tommy.
“Mungkin juga, sih,” sambung Tofan.
“Coba I lihat the money,” kata Surdi menghampiri teman-temannya. “Bentuk dan ukurannya kok kayak our money now, ya?”
“Benar juga. Berarti memang ada yang iseng menggali uang itu,” sahut Erwin. “Benar-benar kurang kerjaan.”
“Ngomong-ngomong, sejak kapan lo pake kalung, Sur?” tanya Tofan.
“Kalung?” Surdi meraba lehernya. Ia memakai kalung dengan hiasan dari tulang, persis seperti yang ada di mimpinya. “Jangan-jangan…” Surdi kembali melihat uang yang ditemukan Erwin dan menghitungnya. Ia juga memeriksa tasnya. Uang logamnya hilang dan jumlahnya sama dengan yang ditemukan Erwin.
“Kalung and the money… how can?” Surdi menggumam penuh tanya. Ia sendiri tak tahu bagaimana ini terjadi. Ia benar-benar bingung dan memikirkan mimpinya.
Setelah dari situs, mereka bertujuh pulang dan Surdi masih memikirkan mimpinya. Sampai akhirnya, Surdi menganggap manusia prasejarah itu baik hati. Mereka tidak buas, hanya saja berbeda cara dan budaya. Dan gara-gara kalung berhiaskan tulang itu, Surdi tak takut lagi dengan tulang dan tengkorak. Ia kini menganggap tulang dan tengkorak hanyalah benda mati. Untuk apa ia harus takut?
TAMAT

Minggu, 22 Desember 2013

Museum Prasejarah Bagian 1

“T
EMAN-TEMAN, kalian ada acara gak besok Minggu?” tanya Ai pada Kunti, Tommy, dan Erwin di kelas.
“Kalo gue sih, nggak ada,” sahut Tommy.
“Gue juga nggak ada,” tambah Kunti. Erwin pun ikut menggeleng.
“Paman saya mau ke Indonesia, lho. Dia mau neliti situs prasejarah sambil ngunjungin museum prasejarah di Sangiran, Solo. Kalau kalian mau ikut, bisa kok, soalnya paman saya bawa mobil cukup besar,” kata Ai.
“Pas buat berapa orang?” tanya Kunti.
“Isinya bisa memuat 7 sampai 8 orang,” jawab Ai.
“Berarti kalo kita ngajak The Rangers boleh dong?” tanya Tommy memastikan.
“Boleh kok. Saya dan paman pasti senang,” sahut Ai lagi. “Kalau mau ikut, hari Minggu jam 6 kumpul di rumah saya, ya. Paman saya gak suka kalau siang-siang.”
***
Minggu paginya, Surdi dan Erwin datang paling terlambat di rumah Ai. Mereka berdua berboncengan naik motor dan baru sampai pada pukul setengah 7.
“I’m sorry, Ai. Last night, I begadang lihat music concert,” kata Surdi pada Ai.
“Iya, gak pa-pa kok,” sahut Ai. “Sebelum kita berangkat, saya mau ngenalin paman saya. Dia dari Jepang dan belum terlalu bisa bahasa Indonesia. Namanya Paman Fumito-san.”
Terlihat seorang pria berkulit kuning dan berambut hitam. Matanya sipit seperti orang Jepang dan wajahnya mirip dengan Ai. Umurnya sekitar 24 atau 25 tahun. Dia menganggukkan kepala, lalu berkata dengan semangat, “Selamat pagi! Nama saya Sakimi Fumito. Mari kita berangkat!”
Mereka pun masuk ke mobil. Tofan duduk di depan, bersama Paman Fumito untuk memandu jalan. Ai dan Kunti duduk di tengah, sedangkan Tommy, Erwin, dan Surdi duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan, Tofan terlihat memandu jalan Paman Fumito. Tommy pun berceletuk, “Tofan emang pernah ke museum itu, ya?”
“Mungkin pernah,” jawab Erwin singkat.
“Eh guys, sebenarnya we mau ke museum apa, sih?” tanya Surdi.
“Jadi lo ikut, tapi sebenarnya nggak tahu mau ke mana?” Kunti yang mendengarnya sampai keheranan.
“Yeah, I cuma denger ke museum. I orangnya santai, nggak ambil pusing,” sahut Surdi.
“Kita mau pergi ke museum prasejarah, sama situs tempat menggalinya,” sambung Kunti.
“Hah? Prasejarah?” Surdi bertanya lagi sambil melotot.
“Iya, Surdi,” jawab Kunti.
Surdi terkejut. Meski ia belum pernah pergi ke museum prasejarah, ia tahu kalau museum itu berisi tulang-tulang, tengkorak, dan makhluk-makhluk prasejarah tiruan dari lilin. Ia jadi takut. Kalau masuk lab biologi saja, ia sering takut-takut jika berdekatan dengan kerangka manusia tiruan, apalagi jika masuk ke tempat yang penuh dengan tulang dan makhluk-makhluk aneh. Ia takut jika semua itu tiba-tiba bergerak-gerak sendiri. Ih, sereem…
Daripada kelihatan takut, Surdi memilih menjaga image dengan diam seribu bahasa. Dalam perjalanan, ia sama sekali tak tidur memikirkan museum itu, padahal ia begadang tadi malam.
Beberapa jam kemudian, mobil itu tiba di museum. Paman Fumito dan anak-anak turun dari mobil.
“Paman akan masuk ke museum. Kalian bole berpencar dan bermain, tapi tolong saling munghubungi. Paman akan kashi nomor ponsel Paman,” kata Paman Fumito dengan logat Jepang yang kental.
Setelah mereka diberi nomor ponsel Paman Fumito, mereka pun masuk ke dalam museum. Ternyata benar yang dibayangkan Surdi, museum itu berisi makhluk-makhluk aneh dari lilin yang dipajang, juga ada macam-macam tulang belulang. Meski beberapa ditaruh di dalam kotak kaca, Surdi tetap takut-takut untuk mendekatinya. Melihat ekspresi Surdi, Tommy sampai heran.
“Lo kenapa, Sur? Jangan-jangan lo takut, ya?” tanya Tommy sambil cengengesan.
“It’s impossible. I’m calon guitarist band papan atas, you know?” sahut Surdi sok-sokan.
“Emang ada hubungannya takut sama jadi gitaris?” tanya Tommy lagi.
“Umm… Kayaknya sih, nggak ada.”
Sepanjang perjalanan di museum, Surdi tegang. Baginya, ini seperti naik wahana rumah hantu. Namun, dia jaga image karena banyak orang yang bersikap biasa saja. Tangannya menjadi dingin dan dia berkeringat.
Erwin memperhatikan Surdi dengan penuh tanda tanya. “Sur, kamu kenapa?” tanyanya.
“I… I lagi…” Surdi berkata terbata-bata.
“Iya, nih. Lo kenapa, Sur? Badan lo keringetan, tangan lo dingin,” sambung Tofan mencoba memegang tangan Surdi. “Lo sakit?”
Sementara Tommy menahan tawanya, Surdi masih mencoba untuk jaga image. “I lagi… I lagi kebelet to the toilet, nih. Udah I tahan dari tadi, makanya begini.”
“Oh, kenapa nggak bilang dari tadi? Toilet di sebelah sana,” sahut Tofan menunjukkan arah ke toilet.
Surdi pun kabur. Setelah teman-temannya tak melihat, ia lari mencari jalan keluar. Beruntung, ia segera menemukannya. Di luar, ia mencari tempat untuk duduk dan bersandar dengan santai. Tas hitam kecil yang dari tadi ia bawa masih terselempangkan di pinggangnya.
Surdi mengatur nafasnya di sana. Ia mulai rileks. Ia tak mau masuk ke museum itu lagi. Meski teman-temannya bingung mencarinya, ia tak peduli. Ia hanya ingin keluar dari tempat “menakutkan” itu.
Surdi kemudian mendengar suara langkah kaki beberapa orang. Ia menengok ke sumber suara dan terlihatlah beberapa manusia prasejarah! Manusia-manusia itu berambut lebat berwarna cokelat kehitaman. Mukanya mirip seperti tiruan manusia purba dalam museum. Mereka tidak berpakaian dan beberapa membawa tombak dan kapak dari batu.
Surdi tak paham dengan apa yang terjadi dan berusaha lari. Ia kira manusia purba itu sudah punah. Namun, manusia purba itu seakan tertarik dengan Surdi. Salah seorang dari mereka –sepertinya pemimpinnya– menangkap dan menarik tangan Surdi, berusaha menculiknya. Surdi ketakutan sambil mencoba melepas genggaman tangannya, tapi genggaman itu sangat kuat sehingga Surdi tak bisa berbuat banyak.
Saat itu, tak ada orang di luar museum sehingga berapa kali pun Surdi berteriak minta tolong, tak ada yang mendengar. Surdi dibawa ke gua persembunyian mereka. Di sana ada beberapa manusia purba yang tengah menunggu.
Berlanjut ke Bagian 2...

Sabtu, 03 Agustus 2013

Ulangtahun Surdi Bagian 3

Tok, tok, tok… Tofan mengetuk pintu belakang beberapa kali. Surdi yang sedang ngiler menonton JKT48 lalu berjalan menuju pintu belakang.
“Siapa yang datang in the midnight begini? Kenapa juga ngetok pintu belakang? Tetangga, maybe?” cowok gondrong itu menggumam sendiri.
Langkah Surdi mendekat. Surdi hendak membuka pintu, tapi Tofan bersembunyi di baliknya. Ia memberi kode dengan mengacungkan ibu jari pada Erwin yang ada di ujung. Erwin pun menyalurkan kode ibu jari itu pada Tommy.
“Lho, kok nggak ada siapa-siapa, ya?” Surdi kembali menggumam. “Helloo… Siapa yang tadi ngetok pintu?”
Dok, dok, dok! Belum sempat Surdi memeriksa siapa yang mengetuk pintu belakang, ada lagi yang mengetuk pintu depan. Dok, dok, dok! Suara itu makin keras seperti memaksa Surdi untuk segera membukakan pintunya.
Surdi berlari ke depan, menyambar senter di meja sebagai penerangan dan senjata kalau-kalau yang mengetuk itu penjahat. Tapi karena terburu-buru ke depan, Surdi jadi lupa menutup pintu belakang. Tofan dan Erwin pun masuk ke rumah Surdi dengan mudah. Mereka menuju ke kamar Surdi.
Surdi menyalakan senternya lalu membuka pintu depan. Terlihat Tommy sudah ada di depan pintu dengan tangan seperti siap-siap mencakar dan lidah menjulur. Senter Surdi tidak membantu, justru membuat wajah Tommy makin seram diterangi cahaya senter.
“Oh my gosh!” Surdi terkejut dan secara refleks melempar senternya ke muka Tommy si tuyul.
“Aduh!” Tommy kesakitan menerima lemparan Surdi. Tapi ia dengan segera melewati Surdi dan berlari ke kamarnya menyusul Tofan dan Erwin.
Surdi tiba-tiba jadi pemberani. Ia mengejar tuyul itu karena tidak rela uangnya dicuri. “Jangan curi my money, Tuyul!”
Tapi setelah sampai di kamarnya, Surdi terkejut. Sahabat-sahabatnya menyanyikan lagu Selamat Ulangtahun. Surdi juga baru sadar kalau tuyul itu ternyata Tommy.
“Wow, thanks, guys! Ternyata you semua ingat my birthday,” kata Surdi sok Inggris.
“Tentu saja kita ingat, Sur. Kita kan sahabat,” sahut Erwin sambil tersenyum.
“Oh iya, kita juga bawa hadiah,” Tofan membuka tas punggungnya. Ia mengeluarkan isi tasnya, termasuk pakaian Tommy.
Surdi membuka salah satu hadiahnya. Kadonya panjang, lebar, tapi tipis. Kado itu dibungkus koran.
“Ini pasti dari Tommy,” kata Surdi sambil nyengir.
“Hehe… Iya, Sur. Sori ya, soalnya gue tadi ada masalah sama kapten tim lawan waktu futsal. Eh, gue sama dia malah ketemu lagi waktu mau beli kado. Jadinya ya gue buru-buru terus nggak sempet beli kertas kado,” sahut Tommy, padahal alasan sebenarnya adalah karena dia tak punya uang.
Isi kado Tommy adalah triplek yang ditempeli kardus, kemudian dilapisi kertas asturo. Dipasang pula gantungan dari tali pramuka. Di kertas asturo itu ditempelkan huruf-huruf dari kain flanel. Bunyinya, “Happy Birtday Surdi!”. Kelihatan sekali kalau dia membuatnya sendiri, terlihat dari potongannya yang tidak rapi dan tulisan “happy birthday” yang kurang huruf H. Tapi Surdi sangat menghargai hadiah Tommy. Ia membayangkan bagaimana Tommy bersusah payah membuatkannya meski dalam uang yang terbatas.
“Thank you, Tom,” kata Surdi.
“You’re welcome, Sur,” sahut Tommy.
Surdi membuka salah satu hadiah lagi. Dilihat dari bentuknya sudah kelihatan, buku. Surdi pun membukanya. Judulnya “Biografi Para Musisi Dunia”. Di situ biografi mereka dijelaskan secara ringkas meski pun halamannya masih tebal, sekitar 200 halaman.
“A book? Ini pasti dari Erwin,” Surdi yang kurang suka membaca itu membuka halaman-halamannya. “Wah, very interesting. Nggak boring deh kalo baca. Thanks, Win.”
“Sama-sama, Sur.”
Yang terakhir adalah kado Tofan. Bentuknya mirip seperti kado Erwin, hanya saja lebih mirip buku tulis. Surdi berpikir sepintas dalam hati, apa Tofan tega give me only a writing book?
Surdi membuka kertas kadonya. Sepintas dia terkejut. Dia pikir Tofan benar-benar tega, tapi ternyata dia salah. Di buku itu tertulis “The Rangers”.
Saat dia membuka buku itu, tertulis di tengah-tengah halaman angka 7 romawi. Isinya adalah foto-foto The Rangers ketika masih kelas 7. Surdi terkejut lagi. Ternyata dia sekecil itu saat masih SMP dan sama sekali tidak keren. Di halaman-halaman selanjutnya, juga ada foto-foto The Rangers saat kelas 8 dan 9. Di dalam hatinya, ia rindu masa-masa SMP-nya dulu.
“Thanks, Fan. Dari mana you dapet foto-foto ini?” tanya Surdi.
“Dari HP gue sama dari jejaring-jejaring sosial. Kan banyak yang di-upload, Gan,” sahut Tofan.
Erwin dari tadi melirik ke arah Tommy yang masih betah saja hanya memakai celana boxer dan bermandikan bedak. Ia tak tahan untuk berkata pada Tommy.
“Tom, bagaimana kamu bisa betah menjadi tuyul begitu? Apa kamu tidak ingin berganti baju?” tanya Erwin.
“Nanti aja deh, Win. Di rumah. Gue pake jaket aja, hehe…” jawab Tommy mengambil jaketnya di tas kasur Surdi. Ia juga menitipkan pakaiannya kembali ke tas Tofan.
“Oh iya, Tom, I am very kaget waktu lihat you jadi tuyul. Acting you bagus. Apalagi ada pocong-pocongan segala,” kata Surdi mengacungkan ibu jarinya.
“Pocong-pocongan?” Tofan, Erwin, dan Tommy bertanya hampir bersamaan.
“Lho, emangnya itu bukan ulah you? So, apa yang tadi I lihat?”
Glek! Mereka semua menelan ludah. Jangan-jangan…

TAMAT

Kamis, 01 Agustus 2013

Ulangtahun Surdi Bagian 2

Terdengar suara deru motor ke arah toko. Dilihat dari motor gedenya, cowok yang menunggangnya pasti tajir dan keren. Tapi setelah helmnya dibuka, sepertinya kata “keren” kurang tepat.
“Mbak, beliin apa aja deh, pokoknya yang pas goceng,” kata Tommy pada Mbak-nya.
“Beliin apa?”
Tommy melihat ke arah pintu toko. Ternyata pemilik motor gede itu adalah kapten tim lawan yang tadi marah karena disembur Tommy. Ia berjalan memasuki toko.
“Beliin apa, Aak Tommy?” Mbak itu mulai kesal karena gantian dicuekin.
“Nggak usah banyak nanya deh, Mbak. Apa aja, pokoknya pas goceng,” kata Tommy mulai cemas kalau dia tertangkap dan mendapat bogem mentah. “Cepetan, Mbak.”
Mbak-nya memasukkan beberapa barang ke kantong plastik dan memberinya ke Tommy. Tommy membayarnya dengan uang goceng leceknya.
“Makasih, Mbak!” kata Tommy buru-buru keluar dari toko itu.
Tapi karena Tommy tak melihat-lihat sewaktu berjalan, ia justru menabrak kapten tim itu.
“Eh, lo lagi! Beruntung banget gue bisa ketemu di sini. Mau lari ke mana lo sekarang?” Kapten tim itu kembali menyiapkan pukulannya.
“Ciee… Bambang ngikutin gue, ya? Apa jangan-jangan, mau beli bando?” ledek Tommy.
Kapten tim itu sudah hendak memberi Tommy bogem mentahnya, tapi Tommy menghindar dan kabur lewat sela-sela di antara kedua kaki kapten tim itu. Badan Tommy kan kecil, jadinya muat. Setelah itu, dia kabur lagi dengan mengayuh sepedanya sekuat tenaga.
Sesampainya di rumah, badan Tommy sudah basah oleh keringat. Ia capai, menuju ke kamarnya lalu tiduran terlentang di atas kasurnya yang empuk. Di tangannya masih terbawa kantong plastik berisi hadiah untuk Surdi.
“Oh iya, tadi dibeliin hadiah apa ya sama Mbak-nya?” Tommy memeriksa isi kantong plastik itu, tapi yang ia temukan adalah selembar kertas asturo dan kain flanel. “Hmm... hadiah apa yang bisa gue buat dari bahan kayak gini ya?” Tommy berpikir.
***
Pukul sebelas malam. Tiga orang cowok berjaket sedang bersepeda bersama. Gila, apa maksud mereka bersepeda pada jam segini? Ternyata mereka adalah Tofan, Erwin, dan Tommy. Mereka hendak pergi ke rumah Surdi untuk merayakan hari ulangtahun sahabat mereka tengah malam nanti. Untung mereka dibolehkan pergi oleh orangtua mereka, kecuali Tommy yang memang kabur sebentar tanpa izin soalnya orangtuanya galak. Alasan mereka naik sepeda itu agar tidak membuat bising dan mengganggu lingkungan sekitar.
Sesampainya di dekat rumah Surdi, Tofan memberi aba-aba agar semua berhenti. Kemudian ia turun dan menjelaskan rencananya pada Tommy dan Erwin.
“Misi kita kali ini, kita harus bisa masuk rumah Surdi dan beri dia kejutan ulangtahun tepat jam 12 malam,” jelas Tofan.
“Tetapi bagaimana caranya? Bukankah pintunya dikunci semua?” tanya Erwin yang memang terobsesi mengucapkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
“Kita pura-pura jadi maling gitu? Apa jadi maling beneran?” sahut Tommy seenaknya.
“Gue kan udah bawa peralatannya, Gan,” Tofan tersenyum penuh arti. Erwin ikut tersenyum menahan tawa.
“Wah, perasaan gue nggak enak,” gumam Tommy.
“Kalian tahu kan kalau Surdi biar pun gayanya sok-sokan kayak gitu paling takut sama hantu? Nah, rencana gue kayak begini…” Tofan berbisik-bisik pada kedua sahabatnya.
Tak lama kemudian, Tommy menghilang, digantikan oleh sosok anak kecil putih seputih bedak yang hanya memakai celana boxer.
“Brrr… Dingiiin. Kenapa gue yang harus jadi tuyul, sih?” Tommy jengkel menutupi tubuhnya dengan tangan.
“Emang lo sendiri yang cocok, kan? Badan lo kan kecil,” sahut Tofan.
Ternyata sosok anak kecil itu adalah Tommy dan warna putih di tubuhnya memang berasal dari bedak yang Tofan siapkan dari rumah. Ia menyimpan bedak dan kado teman-temannya di tas punggungnya yang extra large. Pakaian dan jaket Tommy pun ia masukkan ke dalam tasnya.
Erwin melihat jam di ponselnya. Pukul setengah 12. Ia lalu bertanya pada Tofan. “Apa kamu yakin kalau Surdi masih bangun tengah malam begini?”
“Yakin. Hari ini kan ada konser musik yang tayang sampai tengah malam di tivi. Mana mungkin Surdi ngelewatin itu?”
“Iya, Surdi nggak mungkin ngelewatin konser itu. Apalagi ada JKT48 yang seger-seger, hehe…” tambah Tommy yang berkostum tuyul.
“Oke, Rangers. Misi kita kali ini dimulai… sekarang!” Tofan mengeluarkan kata-kata favoritnya jika ia dan sahabat-sahabatnya akan melakukan misi.
Tofan menuju ke pintu belakang rumah Surdi, sedangkan Tommy berada di pintu depan. Erwin berada di antara mereka untuk mengawasi dan menyalurkan kode.

Tok, tok, tok… Tofan mengetuk pintu belakang beberapa kali. Surdi yang sedang ngiler menonton JKT48 lalu berjalan menuju pintu belakang.
Berlanjut ke Bagian 3...